oleh

Krisis Ekologi Berkelanjutan, Sampai Kapan?

Oleh: Arifin Muhammad Ade (Alumni Pasca Sarjana Institut Teknologi Yogyakarta & Penulis Buku Narasi Ekologi)

jazirah Indonesia – Kepedulian akan kelestarian lingkungan hidup mulai marak dikampanyekan akhir-akhir ini. Keprihatinan melihat kondisi bumi yang semakin terdegradasi akibat ulah manusia memicu aksi dari berbagai pihak untuk sama-sama mencari solusi guna menyelamatkan krisis berkepanjangan yang melanda planet bumi.

Perhatian terhadap kelestarian lingkungan tidak saja datang dari pihak pemerhati lingkungan, mengingat permasalahan lingkungan hidup adalah persoalan yang sangat kompleks. Maka, menjawab kompleksitas persoalan lingkungan pun membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Tidak mengherankan, jika kini banyak kalangan yang menaruh perhatian terhadap isu-isu ekologi.

Poin penting yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini adalah bahwa selama ini mindset berpikir kita cenderung mengadopsi cara-cara berpikir kapitalistik. Cara berpikir yang mengajarkan kita untuk terus mengejar pertumbuhan ekonomi tiada henti. Cara berpikir yang mengajarkan kita sepanjang waktu bahwa hanya pertumbuhan ekonomi yang dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Otto Soemarwoto (1991) dalam bukunya Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, menjelaskan bahwa dalam usaha memperbaiki mutu hidup, harus dijaga agar kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan pada tingkat lebih tinggi tidak menjadi rusak. Sebab kalau kerusakan terjadi, bukannya perbaikan mutu hidup yang dicapai, melainkan justru kemerosotan.

Lebih lanjut, James Gustave Speth dalam Lingkungan Hidup dan Kapitalisme  menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi boleh jadi agama sekuler yang dianut dunia, tapi bagi sebagian besar belahan dunia ini adalah dewa yang gagal. Disamping itu Ia menambahkan bahwa dorongan tiada akhir untuk menumbuhkan perekonomian di Amerika Serikat secara keseluruhan telah melemahkan masyarakat dan lingkungan (F. Magdof & J.B Foster, 2018).

Gagasan dari dua tokoh diatas, terkait dengan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, memberikan pandangan serta membuka wawasan kita bahwasanya pertumbuhan ekonomi tidak bisa tumbuh secara tak terbatas pada lingkungan yang terbatas. Artinya, perekonomian akan runtuh jika kondisi lingkungan semakin terdegradasi.

Analoginya, jika sumber daya alam terus dieksploitasi dengan dalil untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek ekologi, maka kondisi lingkungan akan semakin rusak. Hal ini akan menyebabkan krisis ekologi berkelanjutan. Alih-alih ingin mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan yang terjadi justru pengrusakan yang berkelanjutan.

Di era sekarang, dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, pemanfaatan teknologi untuk mengeruk semakin banyak sumber daya alam dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi krisis ekologi, justru digunakan sebagai media untuk mengeksploitasi alam dengan semakin intensif.

Terkait teknologi, kapitalisme senantiasa mendukung teknologi tertentu yang memperbesar laba, akumulasi dan pertumbuhan ekonomi. Karena teknologi bertujuan memuaskan pertumbuhan, kapitalisme cenderung memilih teknologi-teknologi yang memaksimalkan asupan sumberdaya dan energi secara keseluruhan demi kepentingan menggenjot keluaran ekonomi secara keseluruhan.

Dalam konteks Indonesia, sebagai salah satu negara di dunia yang menyimpan cadangan sumber daya alam melimpah dari baik di daratan maupun lautan. Pengeksploitasian atas sumber daya alam semakin marak dilakukan. Pembukaan hutan secara besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit, serta Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang terus dikeluarkan oleh pemerintah setempat semakin memperkuat dugaan bahwa untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi hanya dapat dilakukan dengan pengeksploitasian sumber daya alam yang tersedia.

Berita yang dirilis salah satu media daring dengan judul “2020, Smelter Berteknologi Tinggi Dibangun di Pulau Obi” membuktikan bahwa tidak ada kreativitas yang diperlihatkan oleh para elit di negeri ini. Sektor pertambangan selalu menjadi pilihan utama ketika ingin mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, rusaknya lingkungan menjadi konsekuensi jika ingin mengejar pertumbuhan ekonomi.

Satu hal yang perlu disadari bahwa selama ini kita selalu dimanjakan dengan kekayaan sumberdaya alam yang tersedia, sumber daya alam yang keberadaannya suatu saat pasti habis. Sehingga lupa untuk mengembangkan sumber daya manusia sebagai investasi jangka panjang yang tidak akan pernah habis.

Plato (427-347 SM) pernah mengatakan, bukti apa yang bisa kita tawarkan bahwa (tanah di sekitar Athena) saat ini hanyalah sisa-sisa gersang dari yang sebelumnya? Yang tersisa bagimu (dengan pulau-pulau kecil) mirip dengan rangka yang dagingnya telah habis dimakan penyakit, lapisan tanah gembur dan kaya telah habis, tak meninggalkan apa-apa selain kulit dan tulang.

Melihat Indonesia dari pemikiran Plato diatas maka, sebagai saran untuk para elit pengambil kebijakan di negeri ini harus lebih berhati-hati dalam menentukan arah pembangunan. Supaya Indonesia akan datang bukanlah sisa-sisa gersang hari ini, bukan pula lapisan tanah gembur dan kaya yang telah habis. Karena yang kita kejar adalah pembangunan berkelanjutan, bukannya krisis berkelanjutan.

banner 1200x500

Komentar