oleh

Bermaaf-Maafan Saat Lebaran, Fenomena Budaya atau Peristiwa Teologis?

Jazirah Indonesia  Setelah berpuasa sebulan penuh, tiba pada bulan syawal tak terhindar adalah tradisi saling maaf memaafkan. Demikian hal ini selalu ada di setiap hari raya Idul Fitri di Indonesia.

Nampak momen Idul Fitri membawa setiap orang untuk saling bertemu, menjadikan suasana hangat untuk saling meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.

banner 1200x500

Fenomena ini membawa pula orang yang berada di daerah lain harus mudik saat idul Fitri untuk secara langsung bersuka cita saling maaf memaafkan dengan sanak kelurga di kampung halaman.

Sementara mudik berkonsekuensi biaya yang besar, belum lagi soal  oleh-oleh untuk saudara-saudara yang dipikirkan seorang pemudik.

Napsiah dan Srisanityastuti dalam jurnalnya mengutip Kuswaya (2016) bahwa biaya seorang pemudik justru tidak menjadi persoalan, asalkan mereka bisa bersilaturrahim dengan sanak saudara di kampung halaman saat lebaran.

Akhirnya, mudik dalam perkembangannya tak hanya berhenti sekedar pulang kampung saja. Namun berpadu dengan tradisi halal bi halal berkonotasi maaf maafkan sebagaimana yang disebut.

Dalam masyarakat Jawa, tradisi halal bi halal dilakukan dalam bentuk “Sungkeman” atau duduk bersujud meminta maaf. Sungkeman dimulai dari sungkem kepada ibu/bapak, dilanjutkan dengan sungkem dari saudara yang muda kepada yang lebih tua.

Secara umum, tradisi halal bi halal ini dilakukan dengan saling menyambangi orang tua atau orang yang secara hirarkhi dianggap lebih tinggi.

Hirarkhi dalam konteks ini bukan sekadar kedudukan sosial atau jabatan. Tapi juga hirarkhi dari sisi umur. Orang muda akan mendatangi orang yang lebih tua.

Disini, dalam perspektif ilmu psikologi sosial, manusia adalah individu yang tidak hanya memiliki identitas personal, tapi juga identitas sosial. Identitas personal adalah struktur fisik dan fitur kepribadian yang kita miliki sebagai seorang individu.

Demikian sajian Jazirah Indonesia kali ini berfokus pada fenomena “maaf memaafkan” saat momen Idul Fitri yang berkonotasi dengan “halal bi halal”, dijumpai ada tradisi yang menengahi dan secara tak langsung mendekatkan setiap orang pada setiap tujuan itu. Contoh tradisi “mudik” yang disebutkan.

Fenomena itu berbeda di setiap Negara, Hordern, (2016); Ives & Kidwell, (2019) menemukan berbagai macam tradisi umat muslim di seluruh dunia menyambut bulan Syawal dengan tradisi  yang lebih mempunyai makna tak langsung sebagai silaturahmi.

Di Turki misalnya, dikenal dengan tradisi ‘Hari Raya Gula’ atau dalam bahasa lokalnya “Seker Bayram”saat perayaan Idul Fitri. Dimana setiap keluarga di Turki akan menerima dan memberi manisan, permen, cokelat, hingga kudapan kuliner khas Turki.

Sedangkan yang menyertai saat lebaran di Turki yakni Bayram, orang-orang akan saling mengucapkan ‘Bayramınız mübarek olsun’, seperti kita di Indonesia yang saling mengucapkan ‘minal aidzin wal faidzin’, namun ini lebih pada konteks silaturrahim ke rumah keluarga atau tetangga terdekat.

Di China, warga muslim dari etnis Hui di Provinsi Ningxia, pendekatan silaturahhmi dengan satu tradisi setelah Salat Idul Fitri, mereka secara bersama melakukan ziarah kubur untuk mendoakan keluarga dan nenek moyang yang tewas akibat revolusi kebudayaan dan persekusi Dinasti Qing.

Kemudian, muslim India merayakan Idul Fitri dengan berkumpul bersama keluarga dan menyantap servai yaitu sejenis bihun dan Sheer Kurma.

Hanifah, (2019) juga mengungkap tradisi yang tak kalah unik umat Muslim Afganistan, silaturahmi yang telah mengakar dengan gelaran tradisi perang telur “Tokhm-Jangi”, dimana telur tersebut diwarnai ke taman-taman.

Idul Fitri di Negara-Negara Arab

Melansir Aljazeera, suasana menyambut Idul Fitri di Negara-Negara Arab, dijamin dengan pemberlakuan cuti dengan waktu yang cukup, umumnya selama 9 sampai 11 hari sebelum Idul Fitri, seperti Qatar, Arab, Kuwait, Oman dan Abu Dhabi.

Namun, pemberlakuan waktu yang cukup itu, lebih digunakan pada melangsungkan kegiatan yang mengikat silaturrahim mereka, baik menyambut Idul Fitri maupun saat pelaksanaan idul fitri yang tidak untuk suatu desakan memenuhi kebutuhan saling memaafkan semata.

Tradisi yang dibangun pada momen idul Fitri di Negara-negara tersebut, secara tak langsung sekaligus mempererat silaturrahim diantara komunitas yang ada.

Seperti halnya di Abu Dhabi ditulis Aljazeera, tidak ada tradisi mudik, akan tetapi dipadati dengan kegiatan kesenian, berwisata ke tempat hiburan, kuliner.

Muslim di Abu Dhabi dan di Negara-negara Arab lainnya, biasanya merayakan Idul Fitri sepanjang hari dan sepanjang malam di taman bermain dan wahana musik. Para pengunjung diberikan akses gratis ketika memasuki area wahana tersebut.

“Pusat-pusat perbelanjaan di Abu Dhabi akan merayakan Idul Fitri dengan berbagai aktivitas dan pertunjukan seni yang menghibur selama empat hari”, tulis Aljazeera.

Disini juga terjadi penawaran jasa desain henna tradisional untuk melukis nama atau kata favorit yang ditulis dalam kaligrafi Arab. Demikian juga dengan anak-anak, mereka dapat menikmati kegiatan dekorasi lukisan, tembikar, dan lentera.

Tentang tradisi mudik seperti yang ditulis tagar.id, tidak ada tradisi mudik menjelang Lebaran di Arab. Kalaupun melakukan perjalanan atau pergi ke luar rumah, mereka akan melakukan tepat di hari pertama lebaran.

Malam menjelang Idul fitri di Arab, kumandang takbir dengan suara saja tanpa diiringi dengan tabuhan bedug.

Meski tradisi halal bihalal juga dilakukan di Arab Saudi, namun orang Arab hanya melakukannya pada keluarga terdekat saja, terutama pada orang yang lebih tua. Pelaksanaannya pun hanya pada malam hari.

Di Arab Saudi, mereka umumnya menyediakan makanan yang cenderung manis atau hidangan yang hampir sama dengan yang disajikan saat berbuka puasa. aneka makanan manis tersebut adalah kurma, coklat, dan lain-lain.

Relasi Teologis Bermaaf-Maafan Saat Lebaran

Dari fenomena berlebaran Idul Fitri yang diungkap, jelas ada perbedaan di berbagai Negara, meskipun masih dibutuhkan kajian lebih jauh tentang hakikat perbedaan itu.

Demikian pertanyaannya, apakah saling maaf memaafkan (halal bi halal) merupakan suatu peristiwa teologis, yang menjadi kewajiban bagi umat islam, atau sekedar fenomena budaya.

Menjadi manusia pemurah dengan memaafkan sesama umat adalah amal saleh yang dianjurkan dalam Islam. Seperti dalam surat Al-A’raf ayat 199 yang artinya “jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”.

Kemudian, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nuur: 22)

Namun dalil itu tidak menjelaskan saling maaf memaafkan kapan dan dimana harus dilakukan. Hal itu berarti jika seseorang dengan lapang dada bermaafan atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat dapat dilakukan di setiap waktu. Pada dasarnya memaaf-mafaan adalah soal keikhlasan hati untuk meminta dan memberi maaf.

Di satu sisi tak dapat disangkal kebiasaan usai salat Idul Fitri masyarakat kita melanjutkannya dengan saling bersalaman satu sama lain dan bermaaf-maafkan.

Hal semacam ini terjadi mengalir begitu saja tanpa harus ada aba-aba. Kebiasaan Ini sudah menjadi tradisi secara turun temurun.

Namun identitas personal dan identitas sosial dalam teologi Islam, ada pandangan syariat yang dapat dijewantahkan. Seperti konteks mudik dalam bingkai Halal bi Halal yang disebut sebelumnya,

Bertemu dengan orang tua dan sanak saudara dalam konteks halal bi halal, bisa merupakan keharusan atau wajib, akan tetapi tidak harus pada momen lebaran. Sedangkan  kekhusuan dalam menjalankan ibadah puasa merupakan perintah wajib yang dilaksanakn menurut waktu yang ditentukan.

Mudik dalam bulan ramadhan bisa membuat seseorang menjadi tidak khusu, karena kelelahan, terik matahari dan dari perjalanan yang jauh. Jika demikian maka lebih pada keutamaan identitas personal dan sosial.

Demikian berbeda dengan negara Arab, mengapa mereka tidak mengutamakan mudik, jika berkeinginan mudik, mereka lebih memilih mudik saat hari lebaran.  

Tradisi mudik lebaran, bukan merupakan ajaran baku di agama Islam. Namun Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga tali silaturahim dengan sesama manusia.

Lebaran Idul Fitri sebetulnya lebih bermakna perayaan dari kemenangan yang dicapai dari ibadah puasa seseorang selama sebulan dan segala amal ibadah sebelumnya, sekalipun masih ada pandangan dari dua perspektif, yakni spiritual dan sosial.

Terdapat beberapa riwayat yang mengetengahkan apa yang dilakukan saat lebaran, menunjukan ucapan yang berintikan saling doa agar ibadah yang dilakukan sebelumnya dapat lebih bermakna, dan diterima oleh Allah SWT.

Dalam tulisan Risman H Siregar diterbitkan sindonews.com 22 Mei 2020, mengutarakan pandangan syariat Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya “Bekal Ramadhan dan Idul Fithri “.

Yakni, dari Adham, budaknya Umar bin Abdul Aziz berkata: “Kamu dahulu mengucapkan kepada Umar bin Abdul Aziz pada saat dua hari raya dengan ucapan: “Taqabbalallahu minna waminka yan Amiral mukminin (Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua juga amal ibadah Anda wahai Amirul Mukminin), lalu Umar bin Abdul Aziz menjawabnya dan tidak mengingkari ucapan kami. (HR. Al-Baihaqi)

Dari Watsilah berkata: Saya bertemu Rasulullah SAW pada hari raya lalu saya ucapkan: “Taqabbalallahu minna waminka” (semoga Allah menerima amal ibadah kita semua juga amal ibadah Anda, lalu Rasulullah menjawab: “Iya, taqabbalallahu minna waminka“. Semoga AllahTa’ala menerima (amal ibadah) kita semua juga amal ibadah Anda. (HR. Baihaqi)

Dari Khalid bin Ma’dan berkata: Saya bertemu dengan Watsilah bin Al-Asqa’ pada hari raya, lalu saya ucapkan kepadanya: “Taqabbalallahu minna waminka“.

Lalu Watsilah menjawab: “iya, taqabbalallahu minna waminka”, Watislah berkata: Dulu saya pernah beretemu Rasulullah pada hari raya dan saya ucapkan kepada beliau: “Taqabballahu minna waminka”, dan Rasulullah menjawab: “iya, taqabbalallahu minna waminka” (HR. Al-Baihaqi)

Hausyab bin Aqil bercerita: saya bertemu dengan Al-Hasan pada hari raya , lalu saya ucapkan: “Taqabbalallahu minna waminka. Lalu beliau berkata: “Iya, taqabbalallahu minna waminka“. (HR. Thabrani). 

Beberapa uraian riwayat disampaikan Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir lebih pada ucapan kemenangan seseorang dari ibadah yang telah dilaksanakan, yang sekaligus mencerminkan rasa persaudaraan dan silaturrahim antara sesama.

Meski sebagian riwayat itu disebut Risman bermasalah dalam pandangan masing-masing, namun semuanya adalah dalam konteks saling memberikan doa antar sesama saat lebaran.

“Walaupun riwayat itu dinilai bermasalah, namun gabungan dari kesemuanya bolehlah kita pakai sebagai acuan bahwa saling memberikan ucapan (tahni’ah) kepada sesama pada hari raya”, tulis Risman.

Penulis : Rizkiansah Yakub
Editor : Rizkiansah Yakub

Komentar