oleh

Fungsi Politik Dalam Penyaluran Bansos Dinilai Lebih Dominasi

Jazirah Indonesia – Pemberian bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat dinilai memiliki tiga fungsi, dimana tiga fungsi tersebut terdapat salah satu yang dominan.

Hal itu disampaikan Co-Founder at Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja. Tiga fungsi dikatakan Dinna  yakni sosial ekonomi, ekonomi, dan sosial politik. Namun.

Menurut perempuan yang meraih gelar Phd di Ohio State University ini, secara desain, fungsi politik dalam penyaluran bansos di Tanah Air lebih mendominasi.

“Secara desain, justru fungsi-fungsi yang tiga ini lebih banyak didominasi oleh fungsi politik, lebih untuk mencari popularitas atau menunjukkan ‘ini loh di era saya saya kasih bantuan sosial’,” ujar Dinna dalam diskusi daring Polemik Pungli Bansos pada Sabtu (31/7).

Fungsi sosial politik dalam pemberian bansos dijelaskan Dinna, dapat menggambarkan pemerintah hadir dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini untuk mencegah timbulnya kelompok rentan. Dengan demikian, masyarakat akan menaruh percaya kepada pemerintah.

Dia menilai, bansos lebih difungsikan mendongkrak popularitas. Bahkan, bantuan diberikan secara jor-joran untuk membandingkan besaran bantuan yang diberikan pada era kepemimpinannya dengan yang sebelumnya.

Sedangkan fungsi sosial ekonomi dalam pemberian bansos lanjutnya, ialah mencegah warga jatuh ke jurang kemiskinan. Sekali jatuh ke jurang kemiskinan, maka bisa turun-temurun berdampak pada terjadinya gizi buruk, sumber daya manusia lemah, jerat utang, menjamurnya penipuan, dan sebagainya.

Kemudian, fungsi ekonomi dalam penyaluran bansos yang kerap dibicarakan yakni menjaga daya beli masyarakat agar terus berputar. Sebab, sistem ekonomi makro di Indonesia banyak bergantung pada permintaan konsumen.

Namun, Dinna mempersoalkan fungsi bansos untuk meningkatkan daya beli masyarakat ini. Misalnya, dia mempertanyakan kajian nilai besaran bantuan, seperti Rp 600 ribu atau Rp 1 juta, dapat mendongkrak daya beli masyarakat.

“Apa betul mendongkrak daya beli? Karena dikasih Rp 600 ribu pada orang yang penghasilan bulannya Rp 500 ribu efeknya apa? Beda dengan yang kemudian dia punya kelonggaran lebih sehingga dia bisa memutar perekonomian dengan membeli barang lebih banyak sehingga menjaga pabrik-pabrik tetap berjalan. Kan harus diukur ya dampak sosialnya,” jelas Dinna.

*Nazirul. Editor: Nazirul

banner 1200x500

Komentar