oleh

Era Disrupsi Butuh Kecepatan Beradaptasi

Jazirah Indonesia – Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, dunia baru atau disebut era disrupsi saat ini menyebabkan perubahan drastis di semua lini kehidupan, teknologi, budaya, ekonomi, industri bahkan pendidikan.

Percepatan perubahan ini menurut Gus Jazil menjadi tantangan bagi para sarjana. Sebab, ilmu yang diperoleh di kampus saat ini, bisa jadi pada lima tahun yang akan datang, sudah tidak terpakai lagi, berganti dengan perubahan yang baru.

”Karena itu, yang diperlukan selain kemampuan, juga kecepatan beradaptasi dengan keadaaan. Dulu mencari informasi lewat koran, hari ini, koran, majalah mulai tergantikan oleh online,” paparnya.

Ini disampaikan Gus Jazil saat orasi ilmiah pada Wisuda ke-XXVI Program Pascasarjana, Sarjana dan Diploma serta Dies Natalis ke-XXXIV STIE Kusuma Negara, Yayasan Masjid Panglima Besar Soedirman di Gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Senin (20/12/2021), dikutip dari laman resmi mpr.go.id.

Era disrupsi yang terjadi inovasi dan perubahan besar-besaran secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Akibatnya, pemain yang masih menggunakan cara dan sistem lama akan kalah bersaing.

”Kita tidak membayangkan dulu kita semua menonton televisi, sekarang mulai jarang, berganti menonton YouTube dan berbagai platform digital lain”, ujar Gus Jazil.

Dulu belanja ke mal lanjutnya, sekarang lewat tombol digital saja barang sudah sampai rumah. Hari ini di platform medsos, klik semua kelihatan,

Menurutnya, kata kunci untuk menghadapi setiap era, baik era sebelumnya, hari ini, dan yang akan datang adalah sumber daya manusia yang memiliki ilmu pengetahuan.

”Kalau mau sukses, kata kuncinya harus menjadi manusia yang memiliki pengetahuan yang dibutuhkan sesuai kontek zamannya,” paparnya.

Di era saat ini, mahasiswa harus memacu diri untuk memiliki kualitas yang dibutuhkan, inovatif dan kreativitas dan kecepatan.

”Dulu ada Nokia jaya, kemudian runtuh runtuh karena kalah beradaptasi dalam melakukan kreativitas dan inovas”, katanya kepada para wisudawan.

Dia mengandai, hari ini keberhasilan dan terakhir menuntut ilmu, bisa jadi ilmu hari ini tidak lagi kompatibel dengan hari yang akan datang,

Disisi lain, Gus Jazil juga mengingatkan pentingnya penguasaan bahasa internasional sebagai alat untuk berkomunikasi dengan dunia global. Generasi muda juga dituntut untuk melek digital.

”Teknologi harus terus di-update karena tiap hari berubah pola dan caranya. Itu harus Anda miliki. Termasuk di dunia yang Anda hadapi di industri dan ekonomi. Bangsa ini harus terus memacu sains dan teknokogi sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain,” urainya.

Kendati begitu, Gus Jazil juga berpesan kepada para lulusan STIE Kusuma Negara agar tetap menjaga nilai-nilai budaya, jati diri dan keimanan.

”Di era distrupsi saat ini, jangan sampai kita mencerabut akar-akar budaya kita. Saya senang hari ini kita tetap menghidupkan nilai-nilai yang dibangun Panglima Besar Jenderal Soedirman yang terus menjaga nilai moralitas dan keimanan,” katanya.

Gus Jazil juga berharap para wisudawan yang telah menyandang titel akademik agar mampu memberikan manfaat ke masyarakat sekitar, keluarga, bangsa dan negara.

”Sebab hari ini sering kali di era ini Anda dinilai terhormat, sukses semata-mata karena materi. Tidak, sama sekali tidak. Kesuskesan seseorang tidak hanya diukur dengan sukses materi, tapi bagaimana bisa bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya.

Komentar