oleh

Hidup Dalam Kebudayaan

banner 1200x500

Oleh: Bambang Rano
(Penggiat Literasi Loga Loga)

 

KETIKA pembangunan Tower ditahun 2021-2022 di kampung halaman saya di Peniti mulai diaktifkan, masyarakat mulai memanfaatkan jaringan tower untuk berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat mereka. Selain itu juga membantu dan memudahkan masyarakat dalam akses informasi.

Kampung saya kemudian mengalami perubahan di dunia ‘’jaringan internet’’ yang memiliki koneksi di belahan dunia mana pun. Namun, segala manfaat di jaringan internet di media sosial juga berdampak pada ancaman sosial.

Saya teringat kejadian di tahun 2012, soal informasi tentang gelombang sunami setinggi tuju meter di kampung Sakam, lalu informasi hoax itu beredar melalui Sms yang tersebar dimasyarakat Peniti, Damuli dan Masure. Saat itu masyarakat panik, akibat informasi hoax yang dilakukan oleh Irawan. Dari ironi kejadian informasi hoax diatas, kita harus tilik bahwa penyebaran hoax membuat masyarakat panik dan cemas dengan kondisi ketidak pastian.

Fenomena hoax semacam ini tidak lagi difilter dan mudah diterima begitu saja. Pada akhirnya hoax (kebohongan) itu menjadi kebenaran yang mudah dikelola oleh pelaku untuk mengancam dan menakuti masyarakat. Tanpa disadari kita juga bagian dari orang-orang yang mempercayai informasi hoax, baik di Fecebook, Istagram, Twiter, Whatsapp, Telegram, dan Sms.  Itulah mengapa kebudayaan  digital tidak lagi mengenal batasan-batasan teritorial antara kampung dan kota.

Melainkan kampung dan kota berada pada ruang kebudayaan ‘’gema digital’’ melalui jejaring internet di media sosial. Budi Hardiman menyebutnya eksistensi atau keberadaan manusia ditentukan seberapa klik di media sosial.  Jika kita tidak aktif di media sosial, maka keberadaan kita tidak eksis, gejala ini menggelisahkan kita. Sebab persoalan pelbagian kemanusiaan kita akan terkooptasi di dunia digital yang begitu kompleks.

Situasi ini kita terperangkap di dunia digital yang memiliki fungsi kontrol terhadap masyarakat terbuka sekarang ini. Bagaimana dengan posisi kebudayaan kearifan lokal yang mencakup tradisi, identitas dan sejarah dikampung.

Sebab hidup dalam kebudayaan adalah ‘’hidup terayun pada ketegangan ini’’. Jika di tidak dipikirkan, maka generasi hari ini akan melupakan tradisi, identitas dan sejarah, disebabkan oleh perubahan hidup yang berbedah pada konteks suatu zaman.  Seperti lelehur dan orang-orang tua kita sebelumnya, tidak mengenal apa itu handphone komputer dan lettop. Namun di zaman ini generasi sudah mengenal handphone, komputer, dan lettop. Generasi lebih sibuk bermain gem dan mengikuti dunia informasi dan teknologi.

Ketimbang memahami sejarah, identitas dan tradisi dikampung, gejala semacam ini harus di refleksikan dan dipikirkan, melalui ritme perubahan hidup disetiap usia generasi dari waktu ke waktu. Karena kebudayaan kearifan lokal adalah acuan rasa merasa melalui budi bahasa, sopan santun, dalam tunju ajar perilaku. Serta adat kebiasaan yang  terjalin kisah sejarah muasal yang dibangun diatas air mata.  Dari karya kebudayaan itulah, kita mengerti  bingkaian pengtahuan dan sistem nilai kehidupan yang  melahirikan mental dan cara berpikir dan bertindak terhadap alam dan sesama.

Jika itu tidak diperdayagunakan dan diikut sertahkan dalam pengembangan mental dan cara berpikir kita bersama.  Maka pergantian rotasi kehidupan harus disadari bahwa tradisi dan sejarah akan pelan-pelan ditelan oleh waktu. Lalu tradisi, identitas dan sejarah akan meninggalkan jejak yang sebatas narasi besar ditampilkan melalui citra politik. Dengan sendirinya persoalan kita sekarang itu kesepian mental dan pola berpikir yang menghadapi  perubahan digital.

Dengan demikian, kita akan tergurus dengan narasi besar bahwa dunia  ini disentuh melalui handphone.   Berapa jam kita menghabiskan waktu di layar handphone  untuk komentar dan twit di media sosial. Atau berapa jam kita membaca buku dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari agar mengukur berapa jam kita memanfaatkan waktu.

Dari perbandingan ini kita menghabiskan waktu 24 jam disisi yang mana. Sehingga generasi tidak terjebak pada hal-hal yang instan dan siap saji.

Misalnya, generasi di era media sosial ini tidak lagi berproses dan berpikir kritis, karena semua hal telah tersedia di internet. Semua tinggal klik dan kopi paste di internet, tanpa harus berpikir lagi, jadi generasi kita terkesan siap saji. Situasi ini mewarnai kehidupan kita yang tak terlepas dari dominasi digital. Rupanya kita terseret pada hal-hal yang tren dan sensasional tanpa memahami perubahan hidup.  Bagaikan mimpi buruk yang menghantui benak generasi berikut, masalahnya kita mengabaikan hal-hal yang ril didepan mata.

Hal-hal yang kita alami sehari-hari itu menjadi pengalaman dari proses belajara. Supaya kita tidak mewarisi kegagalan digenerasi, melainkan kita harus berpikir untuk menguat kesadaran kepada generasi tentang budaya kearifan lokal, tradisi, identitas, dan sejarah dikampung. Dari upaya itulah budaya kearifan lokal harus dipandang sebagai pencapaian tertinggi peradaban dalam menata rasa, merasa, olah pikir, dan laku bertidak.

Sehingga pengguatan dasar etika, moral dan ilmu pengtahuan menjadi pegangan generasi yang membentuk diri merekah di kemudia hari. Dengan cara itu, kita mengalihkan konsentrasi genereasi untuk mempelajari dan mendalami nilai-nilai tradisi yang memantulkan kemanusiaan manusia-nilai keindahan, keluhuran dan kebaikan bersama. Sebab budaya kearifan lokal meliputi  proses belajar, dan pengjewantahan nilai-nilai intelektual, spiritual, dan estetika manusia sebagai sebagai mahluk yang beradab.

Komentar