oleh

Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia

banner 1200x500

Jazirah  Indonesia – Jabir Bin Hayyan dikenal sebagai bapak kimia karena sumbangsihnya di bidang ini. Jabir melakukan banyak eksperimen mengenai kuantitas zat yang berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi.

Dikutip dari situs BBVA Open Mind, Jumat (18/2/2022), tokoh muslim ini mempunyai nama lengkap Abu Musa Jabir Ibn Hayyan Al-Azdi lahir. Lahir pada tahun 721 M di tempat yang sekarang disebut Iran dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota Kufah (Irak).

Putra seorang apoteker, ini belajar pertama ilmu kimia di Yaman, di bawah bimbingan bijak Harbi Al-Himyari. Selanjutnya, Jair Bin Hayyan menjadi murid Imam Jafar Al-Sadiq untuk alkimia (kimia), farmasi, filsafat, kedokteran dan astronomi di Kufah.

Ia menjadi alkemis dan tabib istana pada masa pemerintahan Khalifah Haroun Al-Rashid. Dia meninggal di Kufah pada tahun 815 M pada usia 94 tahun.

Di antara kontribusi terpenting yang ada dalam tulisan-tulisan Arab yang dikaitkan dengan Jabir adalah pentingnya pengetahuan praktis yang diperoleh melalui pengalaman dan eksperimen. Ini adalah penerapan metode eksperimental di dunia Islam , jauh lebih awal daripada di Eropa.

Jabir juga menulis materi dan klasifikasinya dalam dunia hewan, nabati dan mineral; pengenalan sifat intrinsik zat yang berbeda seperti hangat, lembab dan kering; dan kemungkinan untuk mereproduksi secara artifisial banyak fenomena dan material yang terjadi secara alami.

Bahkan dalam bukunya, Jabir menjelaskan berbagai proses dan reaksi kimia, dari sintesis asam seperti nitrat dan sulfat hingga aqua regia, oksida dan garam.

Apa yang dijelaskan oleh Jabir ini sekarang digunakan untuk meningkatkan kualitas banyak produk manufaktur seperti produksi baja dan logam lainnya.

Bahkan tehnik Jabir juga digunakan untuk melakukan pencelupan dan waterproofing kapas dan kulit; analisis kimia pigmen dan zat alami; pemurnian emas; dan produksi merkuri murni dari cinnabar.

Teori Jabir ini menjadi acuan bagi ilmuwan dari generasi selanjutnya dalam mengoksidasi mangaan dalam produksi kaca.

Jabir juga merinci bagaimana membuat bahan tembus cahaya dan bahan bakar uap yang dihasilkan dari menyuling anggur.

Singkatnya, itu adalah sumber pengetahuan kimia eksperimental yang sangat diperlukan dan tak tertandingi bagi para alkemis Barat.

Selama abad ke-15, seluruh buku karya Jabir dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol. Dalam prosesnya, nama penulis juga diterjemahkan dari Jabir asli ke versi Latinnya, Geber.

Dalam perkembangannya, seluruh karya Jabir menjadi ilmu pengetahuan modern, yakni ilmu kimia pertama di dunia Islam dan berabad-abad kemudian berkembang di Eropa.

Komentar