oleh

Indonesia Didorong Pimpin Pembentukan ‘Justice Forum for Palestine’

Jazirah Indonesia – Politik bebas aktif Indonesia seharusnya mendorong negara ini mengambil inisiatif dalam memimpin pembentukan “Justice Forum for Palestine” di kancah global.

Ini disampaikan Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah Senin (18/4/2022), dimana dirinya mengecam keras kekerasan polisi Palestina atas jamaah salat Subuh di Masjid Al-Aqsha pada Jumat (15/4/22).

banner 1200x500

Dia berpendapat politik bebas aktif Indonesia seharusnya mendorong negara ini mengambil inisiatif dalam pembentukan forum itu di kancah internasional.

‘’Kita rasanya sudah bosan meminta Israel  menghentikan kekerasan yang sering mereka lakukan di bulan Ramadan dan PBB tidak pernah mengambil tindakan berarti apapun”, kata Ahmad Basarah di Jakarta, Senin (18/4/2022). dikutip dari laman resmi MRP RI.

Padahal menurutnya, Israel sadar PBB akan melempem seperti macan ompong. Karena itu, langkah konkret harus segera diambil.

“Parlemen Dunia bisa membuat keputusan politik tingkat dunia dan Indonesia menjadi pemrakarsanya,’’ tegasnya.

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri itu mengatakan, dua hari terakhir, media internasional ramai memberitakan polisi Israel kembali menebar teror dengan mengusir dan memukuli warga Palestina yang hendak melaksanakan salat Subuh berjamaah di Masjid Al-Aqsha, Jumat (15/4/22).

Sekitar 158 warga Pelestina luka-luka serius akibat dipukuli dan dikeroyok polisi Israel. Kegaduhan muncul antara lain akibat provokasi iklan online yang menyerukan kelompok ekstremis Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsa selama liburan Paskah.

Baca juga: Arab Kutuk Serangan Israel Saat Shalat di Masjid Al-Aqsa

Kemudian lanjutnya,  dan mengorbankan hewan di halaman masjid. Provokasi itu membuat umat Kristen dan Muslim Palestina bersatu dan bertekad siap mati membela Masjid Al-Aqsa.

Ahmad Basarah mengeaskan, melawan keganasan dan kejahatan kemanusiaan yang bertubi-tubi dilakukan Israel tidak lagi cukup dengan imbauan di media cetak atau media sosial.

Masyarakat dunia belum lagi lupa dengan tragedi hampir setahun lalu, ketika di pertengahan Mei 2021  Israel menewaskan 83 warga sipil Palestina termasuk 17 anak-anak dalam ketegangan kedua bangsa, kini mereka berulah lagi menumpahkan darah di masjid suci Al-Aqsha.

‘’Saat itu kita masih ingat, biarpun sudah ada 83 orang tewas, AS sebagai salah satu anggota Dewan Keamanan PBB tetap memblokir rapat darurat DK PBB yang punya agenda tunggal membahas perseteruan Israel-Palestina”, tandasnya.

Kejadian serupa sambungnya, akan terulang setiap Israel melakukan kejahatan kemanusiaan, PBB akan melempem dan tokoh-tokoh dunia hanya bisa mengecam lewat media social.

Dia menegaskan, manifestasi Dasa Sila Bandung, Indonesia tak pernah berhenti mendukung penuh berdirinya negara Palestina.

Ini kata dia, adalah amanat Proklamator Republik Indonesia Bung Karno yang sejak Konferensi Asia Afrika digelar sudah bertekad hendak memperjuangkan negara-negara yang belum merdeka termasuk Palestina, serta menolak Israel ikut dilibatkan dalam persiapan konferensi tersebut.

‘’Spirit anti penjajahan Bung Karno ini tidak boleh padam di setiap dada kita. Indonesia dulu pernah menolak kehadiran Israel pada Asian Games 1962 di Jakarta sebagai bentuk solidaritas kita pada Palestina”, pungkasnya.

Menurut Ahmad, untuk melanjutkan spirit itu, rasanya tidak berlebihan jika Indonesia sekarang memprakarsai pembentukan forum dunia untuk keadilan bagi Palestina.

Dosen Universitas Islam Malang ini juga menjelaskan, negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) punya potensi besar untuk memperjuangan keadilan buat Palestina.

Apalagi katanya, jika OKI menggandeng himpunan parlemen-parlemen negara anggota OKI yang bernaung di bawah organisasi Parliamentary Union of the OIC Member States atau PUIC di negara masing-masing, ditambah aliansi organisasi non-pemerintahan bernama Liga Muslim Dunia.

‘’Setahu saya, PUIC ini organisasi internasional yang cukup lama berdiri, sejak 1999. Anggotanya 54 parlemen dan 21 observer dari organisasi parlemen regional dan internasional”, tandas Ahmad Basarah.

Lanjutnya, kalau potensi ini dimaksimalkan dan Kementerian Luar Negeri Indonesia juga mau berinisiatif menggalang kekuatan politik ini, saya yakin martabat Indonesia semakin tinggi. Apalagi kita sekarang sedang memimpin G-20.

Komentar