oleh

Silsila RA Kartini, Keturunan Dari Kerajaan Ini

Jazirah Indonesia –  Setiap Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini dan di tanggal ini akan mengingatkan kepada kita siapa sosok yang memperjuangkan emansipasi wanita.

Raden Adjeng Kartini atau RA Kartini merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia merupakan pelopor kebangkitan perempuan Pribumi-Nusantara di era penajajahn Belanda. Sebagai bentuk penghormatan, setiap tanggal 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini.

Melansir dari situs Kemantren Gondokusuman, Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa.

Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit.

Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan.

Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.

Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Emansipasi wanita mulai menggema di Indonesia atas jasa Kartini. Dia menjadi tokoh yang aktif memperjuangkan kesetaraan hak perempuan.

Sebagai perempuan Jawa, dia sangat merasakan ketimpangan sosial antara perempuan dan laki-laki kala itu. Budaya turun-temurun menormalisasi seorang perempuan hanya pasif menjalani alur kehidupan.

Kartini ingin membuktikan bahwa perempuan pun bisa menggantikan peran laki-laki. Dari hal tersebut, Kartini begitu mengidamkan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan.

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Pada kesempatan itu sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

banner 1200x500

Komentar