oleh

Sebuah Kritik Tentang Hilirisasi Nikel

Masgul Abdullah, M.Si
(Direktur Lembaga Studi Pengembangan Masyarakat Tambang Maluku Utara (LESPERMATA))

 

Benarkah Hilirisasi itu menguntungkan kita..? Jangka pendek iya, tapi jangka panjang mungkin tidak. Itu menurut saya.

Betul Negara membutuhkan pemasukan dana untuk mengejar ketertinggalan Infrastruktur dan kesenjangan  pembangunan di tanah air. Tapi apakah dengan melakukan eksploitasi besar-besaran Sumber Daya Alam (SDA) kita akan menjawab semua itu..?

Alih-alih hilirisasi mineral tambang nikel untuk mengejar nilai tambah yang lebih besar, tenaga kerja yang lebih banyak. Tapi mengabaikan daya rusaknya yang juga lebih besar, dan dampak lainnya pada jangka panjang adalah sebuah tindakan ketidak adilan pada masyarakat, terutama kepada mereka yang mendapatkan dampak secara langsung.

Kita perlu menghitung untung ruginya, pada masa yang akan datang. Memang sekarang kita menikmati masa keemasan dimana SDA kita dieksploitasi secara masif. Lapangan kerja terbuka lebar, meskipun SDM kita lebih banyak bekerja di level non skill. Dampak langsung geliatnya ekonomi baru di sekitar daerah operasi perusahan dapat dirasakan.

Negara dan daerah mendapatkan tambahan pajak untuk menopang APBN dan APBD, tapi itu mungkin berlaku paling lama 50 tahun ke depan. Lantas apa yang terjadi setelah itu..? Sudahkan kita menghitung kerugian secara tidak langsung yang kita alami..? kita menghitung nilai tambah dari kegiatan hilirisasi mineral nikel kita, apakah kita menghitung kerugian akan muncul pada masa yang akan datang.

Kita jelas tidak punya teknologi, sehingga Hilirisasi itu menggunakan teknologi Impor yang didatangkan Investor. Limbah teknologinya mengalir di atas tanah kita, limbah-limbah ini tentunya menjadi masalah di masa yang akan datang.

Jelas kita menanggung kerugian dampak lingkungan, polusi debu, lumpur selama perusahan beroperasi dan pasca beroperasi selama ratusan tahun. Limbah-limbah pabrik itu berpotensi mencemari laut kita, sungai kita yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Jika limabah itu mencemari laut kita dan habitat di sana mati atau terkontaminasi oleh limbah dan dikonsumsi oleh masyarakat maka begitu besar resiko kesehatan yang akan mereka tanggung. Fenomena ini bisa kita lihat di Kawasi pulau Obi dan Lelilef dan sekitarnya di Halmahera Tengah.

BUMN kita semakin kecil perannya dalam keterlibatan mengelola SDA kita, lihat saja Antam. BUMN tambang ini, IUP-nya sebentar lagi akan digarap oleh LG dan CBL di Halmahera Timur. Luas KP/IUP yang dikuasai BUMN, Swasta  dan Asing lebih besar mana. Kita pasti bisa bandingkan.

Hilirisasi yang kita canangkan ini tidak seperti slogan Pegadaian “menyelesaikan masalah tanpa masalah” tapi menyelesaikan masalah dengan masalah baru. Orang bawa teknologi ke negara kita agar supaya limbahnya dipindahkan ke negara kita, malah kita yang bangga. Ibaratnya orang mau buat minyak kelapa, batok, serabut dan ampasnya ditinggal di tempat kita, minyaknya dibawa pergi, begitu loh.

Negara tidak bisa berpikir seperti pengusaha, harung untung gede. Negara hadir untuk menjamin kehidupan masyarakatnya. Kenapa Nikel-nikel itu tidak tetap kita jual mentah saja seperti yang kita lakukan selama ini.

Untuk menghindari dampak dari limbah-limbah pabrik pengolahan nikel yang dahsat itu, kita tinggal menciptakan sistem yang membuat negera luar ketergantungan dengan nikel kita, sehingga mereka mau membeli dengan harga mahal.

Dulu nikel menjadi bahan utama untuk besi dan Baja anti karat, sekarang menjadi bahan utama baterei mobil listrik. Orang-orang di Eropa dan Amerika akan menikmati mobil listrik ramah lingkungan, kita malah semangat merusak lingkungan.

Kita menanggung dampak lingkungan 50 tahun  selama perusahan beroperasi dan 100 tahun selama perusahan pasca operasi. Sungguh miris, lebih untung atau malah buntung..? Nasib generasi ke depan tergantung apa tindakan kita hari ini. Siapa yang bertanggungjawab..? Ayo pikir.

Komentar

News Feed