oleh

Masjid Nyili Gamtufkange dan Riwayat Tradisi Maulid Nabi SAW

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, biasanya dilakukan pada malam 12 Rabbiul Awal dalam penanggalan hijriyah.  Perayaan maulid adalah untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Oleh masyarakat Nyili Gamtufkange, Perayaan Maulid atau biasa di kenal dengan pembacaan Riwayat/Mauludun Nabi Muhammad SAW sudah sejak ratusan tahun silam dirayakan, Minggu (9/10)

Di masa imam Sangadji Bin Kapita Barham (Bachraini Attaqiyan) 1887 M, perayaan seperti  ini tidak dilaksanakan di masjid, namun dirayakan dirumah (pangaji) imam Tomayou atau rumah Gimalaha Tomayou.

Sebab pada masa itu, konon katanya belanda (Lada) tidak mengizinkn/melarang masyarakat ramai-ramai berkumpul di masjid, selain hanya untuk melaksanakan  sholat 5 waktu. Baru kemudian di tahun 1952, dimasa imam Ibrahim Bin Hadji Syubah, perayaan maulud Nabi Muhammad SAW akhirnya bisa dilakukan di masjid hingga saat ini.

Perayaan maulud Nabi Muhammad SAW  telah menjadi agenda tahunan masyarakat Nyili Gamtufkange. Berawal dari sejarah Lahirnya seorang bayi yang kemudian menjadi Nabi. Inilah momentum yang disambut penuh keceriaan oleh umat muslim khususnya masyarakat Nyili Gamtufkange.

Ini bukan sebuah acara ceremony atau perayaan yang sekedar bersifat hura-hura, akan tetapi pada intinya Perayaan Maulud tersebut adalah untuk mengingatkan kita akan hari lahirnya rasulullah, sifat-sifat rasulullah, sejarah diangkatnya beliau sebagai nabi dan perjuanganya dalam menegakkan tauhid.

Dalam perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, mengandung makna nasehat untuk dijadikan sebagai dasar dalam kehidupan manusia yang berlandaskan pada kitabullah dan sunnah rasul; sebagaimana yang dikisahkan dalam  prosesi bacaan riwayat; yang  diawali dengan ajakan untuk selalu beriman kepada Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW.

Setelah itu, membenarkan berita yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, membela dan memuliakn Nabi Muhammad SAW, lalu Mencintai orang-orang yang dicintai,  membaca dan mengucapkn salam kepada Nabi Muhammad SAW melalui syair, meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW, dan mengajarkan manusia untuk menaati perintah dan menjauhi larangan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Sementara itu, Perayaan Maulid/Maulud Nabi Muhammad SAW yang dilakukan di masjid Nyili Gamtufkange biasanya diawali dengan pembacaan Shalawat Zainal Anbiyai dengan lirik khas, dirangkaikan dengan bacaan pengajian surah Al Fath ayat 1,  lalu pembacaan Syarraful’anam, dan bacaan marhaban Al-Barzanji, kemudian berdzikir dengan lantunan Syair kisah Rasul pada saat peristiwa beliau dilahirkan, diakhiri dengan Do’a Maulud.

Sedangkan bacaan Do’a selamat adalah sebagai penutup dari rangkaian perayaan tersebut, dengan tujuan akhir adalah untuk mendapat keberkahan dan keselamatan dari Allah SAW.

Adapun Pakaian yang dikenakan saat perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW  adalah Jubbah dan dashtar, yang melambangkan pakaian Rasulullah. Jubah dan Dashtar merupakan pakaian kehormatan imam dan khotib, sedangkan gamis adalah pakaian para modim/muadzin yang dipakai pada saat sholat Jum’at, sholat idul fitri/idul adha dan acara-acara adat serta peringatan hari-hari besar islam dalam lingkup Kesultanan.

Ketika pakaian ini sudah tidak lagi dihargai dan dihormati pada momen atau perayaan seperti maulid ini, itu bertanda sebuah peringatan bagi kita untuk mengintrospeksi akan bergesernya suatu tradisi.

Burhanuddin Abdul Kadir.S.IP,MA Imam Tomayou Masjid Nyili Gamtufkange menyampaikan dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, tujuannya untuk mengajak generasi  muda dan masyarakat untuk dapat memaknai dan memahami akan pentingnya  hari lahir Nabi Besar Rasulullah Muhammad SAW.

“Maulid bukan hanya skedar dirayakan akan tetapi dijadikan sebagai tujuan  mencari ilmu untuk mempertebal keimanan dan aqidah terhadap ajaran tauhid Allah. Menjalin tali silaturrahim antar sesama, memupuk persatuan dan kesatuan pemuda dengan masyarakat dalam kebersamaan membangun negeri untuk menuju pada suatu tatanan kehidupan masyarakat yang religius, bermartabat, tenteram, aman dan damai. Merawat dan menjaga negeri ini dari keterpurukan, mendirikan negeri ini di atas fondasi Baldatun tayyibatun warabbun gafur, Negeri yang selalu dicintai Allah dan Rasul” jelasnya

lanjutnya, Harapan besar dalam pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, adalah untuk merubah karakter atau mindset masyarakat dalam memahami hakekat Riwayat dalam peringatan maulud yang nyatanya tidak semudah membalikan telapak tangan, tentunya kita kembali pada masalah waktu dan kesempatan untuk berpikir. Tradisi perayaan maulid justru dapat mendatangkan mudharat dan menghapus amal ibadah kita jika dilakukan dengan cara yang salah dan cenderung menyesatkan.

Harapan kiranya perayaan maulud/riwayat rasulullah kali ini dapat membentengi generasi muda dengan nilai-nilai islam yang hakiki.  Mendorong generasi muda untuk meneladani sifat-sifat  Rasulullah, kreatif dalam memaknai budaya yang bersendikan agama, mendorong inovasi-inovasi yg berakhlakul karimah, yang terlahir di dalam diri sendiri. Semoga kita diberikan kemudahan dalam berjihad menegakkan agama Allah. Aamiin aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Komentar

News Feed