oleh

Cerita Gubernur AGK 30 Tahun Pernah Menjadi Guru Pesantren

Jazirah Indonesia – Suka duka menjadi seorang guru ternyata pernah dialami oleh gubernur Abdul Ghani Kasuba.

Dari Pondok Pesantren Kharisul Khairat di Tidore, cerita sang kiyai itu bermula. Awal menjadi seorang guru ia geluti setelah kembali mengenyam ilmu agama di Kairo Mesir.

Saat itu, ia bersama adiknya yakni Ustd. Muhammad Kasuba turut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah berdirinya salah satu pondok pesantren tertua dan terbesar di Maluku Utara itu.

Intrik bahkan saling bersinggungan di internal dunia pendidikan sudah dilewati sang kiyai. Ia pernah didepak dari pesantren yang membesarkan namanya lantaran memprotes perubahan nomenklatur nama sekolah itu hingga ia akhirnya mengabdikan diri di sebuah sekolah agama di Kelurahan Kalumpang Ternate.

Disini, Jazirah Indonesia tak menceritakan lebih detail soal perjalanan karir seorang Abdul Ghani Kasuba menjadi guru agama. Namanya melalang buana di penjuru Maluku Utara ketika mendampingi calon haji ke tanah Suci Mekkah, Arab Saudi. Siapa sangka, karir politiknya lebih melejit dibanding menjadi seorang guru setelah ia terjun ke dunia politik dan mengantarkannya sebagai anggota DPR RI, wakil gubernur, hingga dua kali menjabat gubenur Maluku Utara.

“Saya tahu menjadi seorang guru itu sangat lelah karena saya pernah menjadi guru hampir 30 tahun, tapi sebagai manusia kalian harus kuat karena itu merupakan tantangan. Jadi kalian harus bersabar saya menjadi guru,” tutur gubernur Abdul Ghani Kasuba saat menyerahkan SK 100 persen ke ribuan PPPK di Aula Nuku, kantor gubernur Malut, Jumat (6/10/2023) kemarin.

Disela-sela seremoni penyerahan SK PPPK, gubernur Abdul Ghani mengakui, memang nasib guru di Maluku Utara terbilang masih belum seperti yang diharapkan. Buntut dari sejumlah persoalan guru, ia mengakui pernah di demonstrasi. 

“Tapi bagi saya itu bagus, karena menjadi evaluasi bagi saya sebagai pemimpin, agar kita lebih serius membangun Maluku Utara,” katanya.

Meski demikian, ia berpesan kepada PPPK terutama guru agar mengabdikan diri dan menjalani tugas sebaik-baiknya untuk mencerdaskan generasi. Sebab kata sang kiyai, baik buruknya nasib generasi di daerah ini tergantung guru.

“Karena di tangan guru banyak melahirkan pemimpin pemimpin masa depan. Saya hanya berpesan bahwa mengajar dan mendidik itu sangat sulit, anak itu berakhlak baik, disiplin, dan jujur semua tergantung guru,” imbuhnya.

Diketahui, dari 1.231 orang PPPK yang menerima SK 100 persen, sebanyak 1.032 orang diantaranya adalah tenaga guru, sedangkan sisanya tenaga kesehatan 175 orang, dan teknis 24 orang.

banner 1200x500

Komentar