Jazirah Indonesia – Indonesia masih menghadapi persoalan tingginya biaya produksi pangan dibandingkan sejumlah negara tetangga. Untuk beras, biaya produksi di Indonesia disebut mencapai sekitar Rp12 ribu per kilogram, sementara Thailand dan Vietnam hanya sekitar Rp3.800.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengakui tingginya biaya produksi tersebut. Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan biaya produksi adalah besaran subsidi pemerintah yang relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara lain.
“Di sana itu subsidi, saya dari Vietnam, saya bahkan dari Arkansas, Amerika, China, itu subsidinya 70-80 persen. Dan kalau kita bandingkan, sebenarnya sama kalau subsidi kita kecil banget dibanding negara lain,” kata Amran di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).
Amran mengatakan pemerintah masih memiliki keterbatasan untuk menambah besaran subsidi karena harus menyesuaikan dengan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, pemerintah memilih memberikan dukungan melalui sejumlah kebijakan lain. Salah satunya tambahan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung sebanyak 150 ribu ton untuk membantu memenuhi kebutuhan di tingkat peternak.
“Enggak (subsidi diperbesar), cukuplah dulu. Ini kan APBN juga. Ada tambahan lagi SPHP jagung 150 ribu. Tapi Pak Menko (Zulkifli Hasan) benar, itu artinya di luar dari subsidi pemerintah,” ujar Amran.
Pernyataan Amran tersebut merespons perbandingan biaya produksi beras yang sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas.
Zulhas menyebut biaya untuk menghasilkan satu kilogram beras di Thailand dan Vietnam sekitar Rp3.800. Sementara di Indonesia, biaya produksi untuk jumlah yang sama mencapai sekitar Rp12 ribu.
“Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, dia hanya mengeluarkan biaya Rp3.800 (per kilogram). Kita untuk 1 kg beras, itu perlu biaya Rp12 ribu. Betapa kita kalah jauh tertinggal,” ujar Zulhas dalam acara peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).
Menurut Zulhas, tingginya biaya produksi pangan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan subsidi. Ia menilai persoalan tersebut juga dipengaruhi oleh penggunaan teknologi, varietas baru, serta manajemen pengolahan sawah yang berdampak terhadap produktivitas.
Selain beras, Zulhas menyoroti tingginya biaya produksi sejumlah komoditas lainnya. Ia menyebut biaya untuk menghasilkan satu kilogram tebu di Lumajang mencapai sekitar Rp14 ribu. Sementara di India dan Brasil, biaya produksi tebu disebut tidak sampai Rp4.000 per kilogram.
Kesenjangan produktivitas juga terjadi pada komoditas kedelai. Zulhas mengatakan produksi kedelai Indonesia dengan bibit yang digunakan saat ini berada di kisaran satu ton per hektare.
Sementara itu, negara yang mengembangkan rekayasa genetik disebut mampu menghasilkan kedelai hingga 10 ton per hektare. Perbedaan produktivitas tersebut pada akhirnya turut membuat harga kedelai di Indonesia menjadi lebih mahal.
Zulhas menyebut harga kedelai Indonesia dapat mencapai tiga hingga empat kali lebih mahal dibandingkan negara lain. Ia juga menyinggung ketergantungan terhadap bibit impor yang masih terjadi pada hampir seluruh tanaman pangan.
Menurutnya, persoalan biaya produksi, produktivitas, teknologi, dan ketersediaan bibit saling berkaitan sehingga menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk meningkatkan daya saing sektor pangan nasional.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam. Namun, ia menilai perbandingan kedua negara tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan angka pertumbuhan karena memiliki karakter dan kompleksitas ekonomi yang berbeda.
“Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ya kita mungkin kalah sama Vietnam tadi disampaikan. Tapi kan karakter kita beda dengan Vietnam ya, kompleksitas juga masih beda,” kata Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta.
Destry mengatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I, dengan kondisi makroekonomi yang dinilai tetap terjaga.
Ia mencontohkan tingkat inflasi Indonesia yang dinilai lebih terkendali dibandingkan Vietnam, meski pertumbuhan ekonomi negara tersebut lebih tinggi.
“Vietnam dia boleh ekonomi tinggi tapi inflasi dia di atas, 4,5-5 persen seperti itu,” tuturnya.








