Awal 2026 Moncer, Ekspor Maluku Utara Naik 8,40 Persen Ditopang Nikel dan HS 28

Jazirah Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat nilai ekspor Provinsi Maluku Utara pada Januari 2026 mencapai US$1.167,08 juta atau setara US$1,17 miliar. Angka ini tumbuh 8,40 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$1.076,64 juta.

Kepala BPS Provinsi Maluku Utara, Simon Sapary, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan kinerja perdagangan luar negeri daerah tetap solid di awal tahun.

“Nilai ekspor Maluku Utara pada Januari 2026 naik 8,40 persen dibandingkan Januari 2025, dari US$1.076,64 juta menjadi US$1.167,08 juta,” ujar Simon dikutip dari Haliyora.id, Senin (2/3/2026).

Nikel dan Bahan Kimia Anorganik Jadi Motor Pertumbuhan

Secara komoditas, terdapat dua kelompok barang dengan kenaikan nilai ekspor tertinggi pada Januari 2026.

Komoditas nikel (HS 75) mencatat peningkatan sebesar US$86,68 juta atau tumbuh 24,31 persen secara tahunan. Lonjakan ini mempertegas posisi Maluku Utara sebagai salah satu basis industri pengolahan nikel nasional.

Sementara itu, bahan kimia anorganik (HS 28) melonjak signifikan sebesar US$54,26 juta atau naik 132,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, komoditas besi dan baja (HS 72) mengalami penurunan sebesar US$43,57 juta atau terkoreksi 6,48 persen secara yoy. Meski demikian, ketiga komoditas tersebut yakni besi dan baja, nikel, serta bahan kimia anorganik, tetap mendominasi struktur ekspor daerah dengan kontribusi mencapai 99,99 persen terhadap total ekspor.

Secara kumulatif, ekspor tiga golongan barang utama itu meningkat 9,10 persen dibandingkan Januari 2025.

Seluruh Ekspor Mengalir ke Tiongkok

Dari sisi negara tujuan, seluruh ekspor Maluku Utara pada Januari 2026 tercatat mengalir ke Tiongkok dengan total nilai US$1.167,08 juta.

Nilai ekspor ke Tiongkok tersebut meningkat US$138,91 juta atau 13,51 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan ini sejalan dengan tingginya permintaan industri Tiongkok terhadap komoditas unggulan Maluku Utara, terutama produk berbasis nikel dan turunannya.

Komoditas utama yang dikirim meliputi besi dan baja, nikel, serta bahan kimia anorganik yang menjadi tulang punggung struktur ekspor daerah.

Prospek Industri Hilirisasi Masih Kuat

BPS mencatat, kinerja ekspor awal tahun ini mencerminkan berlanjutnya dampak positif hilirisasi mineral, khususnya nikel, di Maluku Utara. Permintaan global terhadap bahan baku industri baterai dan baja tahan karat (stainless steel) dinilai masih menjadi penopang utama.

Dengan tren pertumbuhan yang tetap kuat di awal 2026, Maluku Utara berpotensi mempertahankan posisinya sebagai salah satu kontributor utama ekspor berbasis mineral di Indonesia, terutama untuk pasar Tiongkok.