AI Diproyeksi Bisa Sumbang Rp200 Triliun bagi Ekonomi Indonesia

Jazirah Indonesia – Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas pekerja di Indonesia hingga menghemat sekitar 350 juta jam kerja setiap tahun.

Seiring besarnya potensi tersebut, Google Cloud memperkirakan pemanfaatan AI dapat menciptakan nilai ekonomi mencapai Rp200 triliun.

Country Director Indonesia Google Cloud Karim Siregar mengatakan, nilai ekonomi yang dihasilkan AI tidak hanya berasal dari peningkatan pendapatan, tetapi juga efisiensi operasional, penguatan manajemen risiko, hingga pencegahan berbagai bentuk penipuan di dunia usaha.

Menurutnya, AI juga diperkirakan mampu mendukung produktivitas sekitar 246 ribu pekerja setiap tahun.

Teknologi tersebut dinilai dapat membantu pekerja menyelesaikan tugas lebih cepat sehingga waktu kerja dapat dialihkan untuk aktivitas yang memberikan nilai tambah lebih besar.

Google Cloud memproyeksikan penggunaan AI mampu meningkatkan produktivitas pekerja sekitar empat persen atau setara penghematan rata-rata 1,1 jam kerja per orang setiap pekan.

“Kalau kita jumlahkan seluruh produktivitas pekerja di Indonesia, setahunnya itu sekitar 350 juta jam.

Berarti, pada skala nasional penggunaan AI dampaknya sangat besar sekali,” kata Karim dalam taklimat media di Jakarta, Rabu.

Karim menjelaskan, manfaat AI juga mulai dirasakan kalangan pelaku usaha yang telah mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam operasional bisnis.

Pada layanan pelanggan, misalnya, penggunaan agen AI mampu meningkatkan Return on Investment (ROI) hingga 1,2 kali.

Sementara itu, penerapan AI untuk pengembangan bisnis diproyeksikan mampu meningkatkan ROI hingga 1,3 kali.

Adapun pemanfaatannya dalam pengelolaan dan analisis data bisnis berpotensi menghasilkan ROI hingga 1,6 kali.

Ia menilai Indonesia kini memasuki fase yang lebih menantang dalam adopsi AI, yakni menerapkan teknologi tersebut secara luas di negara dengan jumlah penduduk yang besar serta kebutuhan industri yang beragam.

Menurut Karim, tantangan utama perusahaan saat ini bukan lagi pada ketersediaan teknologi AI, melainkan bagaimana mengintegrasikan AI dengan sistem yang telah dimiliki serta menyesuaikannya dengan tata kelola organisasi agar dapat memberikan manfaat secara optimal.

Karena itu, ia menegaskan perusahaan sebaiknya tidak lagi mempertanyakan apakah AI perlu digunakan, melainkan mulai menentukan sektor atau proses bisnis yang paling berpotensi memperoleh manfaat nyata dari teknologi tersebut.

“Pertanyaannya bukan lagi di mana kita bisa menggunakan AI, tetapi bagaimana AI bisa membawa manfaat bisnis yang nyata,” ujar Karim.