Gempa M5,7 Guncang Ternate, BMKG: Dipicu Aktivitas Subduksi

Jazirah Indonesia – Gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,7 mengguncang wilayah Ternate, Maluku Utara, Jumat (24/7/2026) pukul 05.58.34 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tersebut dipicu aktivitas subduksi dan tidak berpotensi tsunami.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, berdasarkan hasil analisis, gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang terjadi akibat aktivitas subduksi.

“Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi,” kata Wijayanto dalam laporan yang dibagikan kepada BMKG dan stakeholders di Manado, Jumat.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.

BMKG memperbarui parameter gempa dengan magnitudo 5,7 dan kedalaman 27 kilometer. Episenter gempa berada pada koordinat 0,75 derajat Lintang Utara dan 126,33 derajat Bujur Timur, tepatnya di laut sekitar 115 kilometer barat daya Ternate, Maluku Utara.

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa dirasakan paling kuat dengan intensitas V MMI di Pulau Batang Dua, Kota Ternate.

Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk. Banyak warga terkejut dan berlari keluar rumah, sementara kerusakan ringan seperti plester dinding jatuh dan kerusakan cerobong asap dapat terjadi.

Guncangan dengan intensitas IV MMI dirasakan di Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, Kota Ternate, dan Kota Tondano. Sementara intensitas III MMI dirasakan di Pulau Ternate, Kota Ternate, Kota Tidore, Kota Jailolo, dan Kota Bitung.

Hingga pukul 06.25.00 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

BMKG juga memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. BMKG meminta warga menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa bumi.

Masyarakat juga diminta memastikan informasi terkait gempa bumi hanya bersumber dari BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.