Jazirah Indonesia – Ada sejarah yang tidak selesai ketika seseorang meninggalkan tanah kelahirannya. Ia justru bisa tumbuh jauh dari tempat asal, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, lalu menjadi bagian dari identitas masyarakat di negeri lain.
Jejak semacam itu yang sedang ditelusuri Zahira Asmal ketika datang dari Cape Town, Afrika Selatan, ke Ternate, Maluku Utara.
Pendiri sekaligus Direktur designing South Africa itu mengunjungi Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Rabu (23/9/2026). Kunjungannya bukan sekadar pertemuan akademik. Zahira datang membawa cerita tentang hubungan sejarah dan kebudayaan yang menghubungkan Cape Town dengan Maluku Utara.
Di antara simpul sejarah itu terdapat nama Tuan Guru Abdul Qhadi, yang dalam bahan kunjungan ini juga disebut sebagai Syekh Yusuf/Imam Abdullah bin Qadi Abdus Salam.
Tokoh asal Tidore tersebut menjadi bagian penting dari sejarah hubungan Nusantara dan Afrika Selatan. Ia diasingkan oleh kolonial Belanda ke Cape Town pada abad ke-18.
Di tempat pengasingannya, jejak Tuan Guru kemudian tidak berhenti sebagai kisah seorang tokoh yang dipindahkan jauh dari tanah asal. Ia disebut menjadi salah satu pilar penting dalam perkembangan Islam dan peletakan fondasi komunitas Muslim di Afrika Selatan.
Karena itu, bagi Zahira, datang ke Ternate berarti mendatangi salah satu ruang penting dalam cerita yang selama ini hidup di Cape Town.
Menemukan Kembali Sejarah yang Terhubung
Zahira disambut Dekan FIB Unkhair Nurain Jalaluddin bersama jajaran dosen Ilmu Sejarah, di antaranya Umi Barjiah dan Nurachman Iriyanto.
Pertemuan itu mempertemukan dua sisi sejarah yang selama ini berada di ruang geografis berbeda: Maluku Utara sebagai tanah asal tokoh dan Cape Town sebagai salah satu tempat penting dalam perjalanan hidup serta warisan sejarahnya.
Nurain mengatakan, kisah Tuan Guru tidak semestinya berhenti sebagai catatan sejarah. Ia perlu terus dibaca melalui penelitian yang mempertemukan sumber-sumber dari kedua wilayah.
“Kami sangat menyambut baik kedatangan Zahira Asmal di FIB Unkhair. Hubungan historis antara Tidore, Ternate, dan Cape Town melalui sosok Tuan Guru adalah warisan luar biasa. Kunjungan ini membuka peluang besar untuk kolaborasi akademik, penelitian bersama, serta pertukaran budaya antarbangsa,” ujar Nurain.
Bagi kampus, hubungan tersebut juga membuka ruang bagi penelitian lintas negara. Arsip lokal di Maluku Utara dapat dipertemukan dengan dokumentasi dan ingatan masyarakat diaspora di Cape Town.
Dosen Ilmu Sejarah FIB Unkhair, Umi Barjiah, mengatakan jejak Tuan Guru perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas.
“Jejak Tuan Guru di Cape Town memproyeksikan bagaimana nilai-nilai keilmuan dan ketahanan masyarakat Maluku Utara memberi pengaruh besar di belahan dunia lain. Penelitian bersama ini akan memunculkan sudut pandang baru yang lebih kaya bagi mahasiswa dan peneliti di Unkhair,” kata Umi.
Dari Ternate, Membaca Cape Town
Sejarah diaspora kerap menyimpan cerita yang tidak seluruhnya tercatat dalam buku sejarah di tempat asalnya. Ingatan justru dapat bertahan melalui keluarga, komunitas, arsip, tradisi, dan narasi yang diwariskan lintas generasi.
Nurachman Iriyanto melihat pertemuan dengan Zahira sebagai kesempatan untuk menyambungkan kembali serpihan ingatan tersebut.
“Banyak masyarakat kita yang belum menyadari seberapa dalam pengaruh tokoh-tokoh Nusantara di Afrika Selatan. Melalui dialog bersama Zahira, kami berharap dapat menjembatani arsip-arsip sejarah lokal dengan sejarah diaspora di Cape Town,” tutur Nurachman.
Dengan pendekatan itu, kisah Tuan Guru tidak hanya dibaca sebagai sejarah pengasingan seorang tokoh dari Nusantara. Ia juga dapat dilihat sebagai bagian dari sejarah perjumpaan masyarakat, agama, pengetahuan, dan kebudayaan antara Nusantara dan Afrika Selatan.
Bagi generasi muda di Maluku Utara, cerita tersebut memperlihatkan bahwa sejarah daerah tidak selalu berhenti di batas geografis kepulauan.
Ada jejak orang-orang dari tanah ini yang pernah bergerak jauh, menetap di tempat lain, lalu meninggalkan pengaruh yang bertahan hingga kini.
Zahira Pulang Membawa Cerita
Ada alasan personal mengapa perjalanan ini penting bagi Zahira. Ia mengaku senang bisa menginjakkan kaki di tanah yang memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh yang ikut membentuk sejarah masyarakat di kampung halamannya, Cape Town.
“Datang ke Ternate dan berdiskusi dengan para akademisi di FIB Unkhair adalah bagian penting dari perjalanan riset saya. Tuan Guru bukan hanya tokoh sejarah bagi Indonesia, tetapi juga pahlawan dan simbol identitas bagi kami di Cape Town. Saya ingin memastikan ikatan ini terus terjaga dan dipahami oleh generasi muda di kedua negara,” ungkap Zahira.
Perjalanan Zahira ke Ternate juga tidak berdiri sendiri. Saat ini ia tengah menyiapkan pameran terbarunya yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026 di Erasmus Huis, Jakarta.
Pameran tersebut akan menampilkan dokumentasi, arsip, serta narasi visual mengenai keterkaitan sejarah dan kebudayaan antara Afrika Selatan dan Indonesia.
Kunjungan ke FIB Unkhair menjadi salah satu pijakan dalam proses tersebut.
Dari Cape Town ke Ternate, perjalanan itu pada akhirnya mempertemukan dua tempat yang dipisahkan ribuan kilometer, tetapi terhubung oleh satu jejak sejarah.
Jejak Tuan Guru Abdul Qhadi menjadi salah satu pengingat bahwa sejarah Maluku Utara bukan hanya cerita tentang masa lalu di kepulauan. Sebagiannya pernah menyeberang lautan, tumbuh di negeri lain, dan tetap hidup dalam ingatan masyarakat yang diwarisinya. (*)






