Bahlil Akui Program Hilirisasi Ada Kekurangan

Jazirah Indonesia – Program hilirisasi yang digaungkan pemerintah dengan desain roadmap hilirisasi sampai dengan 2040 diakui masih terdapat kekurangan.

Hal itu disampaikan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, dimana menurutnya karena program ini belum lama dijalankan pemerintah.

“Masih ada kekurangan dalam hilirisasi, setuju, orang ini baru 4 tahun kita bangun, 4-5 tahun dalam mewujudkan undang-undang. Yang namanya kita kaya bayi belum 5 tahun, jatuh bangun biasa,” katanya dalam diskusi di Jakarta, Senin (11/12/2023).

Nemaun itu, Bahlil menilai ada pihak yang secara sengaja menggoreng isu hilirisasi nikel di tahun politik saat ini. Ia justru mempertanyakan nasionalisme pihak tersebut yang tak menyetujui hilirisasi.

Siapapun yang akan memimpin pemerintahan selanjutnya kata Bahlil, hilirisasi merupakan bagian penting yang perlu terus dilanjutkan, terutama untuk bisa mencapai visi Indonesia emas pada 2045.

menurutnya, program hilirisasi yang didorong secara massif ini dapat mendukung peningkatan penerimaan negara, menarik teknologi, membuka pasar luar negeri, menciptakan tenaga kerja yang berkualitas hingga memperbaiki defisit neraca dagang dan memperkuat devisa.

Selain itu, imbuh Bahlil, negara yang pertumbuhan ekonomi sehat dan berkualitas, tidak didominasi oleh konsumsi, melainkan oleh ekspor dan investasi.

Balil memaparkan, nilai ekspor komoditas nikel Indonesia meningkat 10 kali lipat dari US$3,3 miliar pada periode 2018 menjadi US$33 miliar pada 2022.

Oleh karenanya, Kementerian Investasi pun telah menyusun roadmap hilirisasi, di mana nilai investasi sektor hilirisasi ditargetkan bisa mencapai USS$545,3 miliar pada 2040.

“Jadi kalau ada yang beranggapan hilirisasi ini keliru, menurut saya otaknya yang harus diluruskan,” tuturnya.

Sebelumnya, pada Agustus 2023 lalu, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menyebutkan bahwa pengembangan smelter yang menghasilkan nikel setengah jadi dinilai hanya menguntungkan industri China.

Di mana lanjutnya, seperti diketahui, hasil hilirisasi nikel di Indonesia menghasilkan Nikel Pig Iron (NPI) dan fero nikel.

“Kalau hilirisasi sekedar dari bijih nikel jadi NPI atau jadi fero nikel. NPI dan fero nikel 99% diekspor ke China jadi hilirisasi Indonesia nyata-nyata mendukung industrialisasi di China itu dia, luar biasa,” ujar Faisal dalam diskusi Indef.