Jazirah Indonesia – Pemerintah pusat merespons kenaikan harga bahan pokok di Maluku Utara dengan mendorong pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah secara masif. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan kenaikan harga pangan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, termasuk naiknya harga impor minyak serta penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
“Ini harga sembako lagi naik, diikuti impor minyak naik dan dolar naik. Akhirnya masyarakat mengeluh karena harga sembako mahal,” kata Zulkifli saat ditemui di Ternate, Maluku Utara, dikutip dari Haliyora, Rabu (5/8/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (y-on-y) Maluku Utara pada Semester I 2026 tercatat sebesar 3,95%. Tekanan inflasi ini terutama berasal dari kelompok bahan makanan.
Untuk meredam kenaikan harga, pemerintah menginstruksikan Perum Bulog segera melakukan operasi pasar guna memastikan pasokan tetap tersedia dan harga lebih terkendali.
“Maka kami pemerintah pusat meminta Bulog segera melakukan operasi pasar,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah mulai dari gubernur, bupati, wali kota hingga camat diminta menggelar pasar murah guna memperluas akses masyarakat terhadap bahan pokok dengan harga terjangkau.
Zulkifli juga mengajak dunia usaha untuk ikut berkontribusi melalui penyelenggaraan pasar murah, khususnya perusahaan yang beroperasi di daerah.
“Perusahaan-perusahaan yang mengambil manfaat dari daerah juga kami harapkan bisa melaksanakan pasar murah agar membantu masyarakat,” katanya.
Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah pusat, daerah, Bulog, dan pelaku usaha dapat menahan laju kenaikan harga pangan di Maluku Utara, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dalam beberapa waktu ke depan. (*)






