Jazirah Indoensia – Selama ini, banyak teori menyebut bahwa alam semesta akan terus mengembang tanpa batas — bintang-bintang menjauh, galaksi saling terpisah, dan ruang kosmik terus melebar tanpa henti.
Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Cosmology and Astroparticle Physics memberikan pandangan berbeda: suatu hari nanti, alam semesta mungkin justru akan berhenti mengembang dan mulai menyusut kembali hingga akhirnya runtuh total.
Kebalikan dari Big Bang
Fenomena ini dikenal dengan istilah “Big Crunch”, atau bisa disebut kebalikan dari Big Bang, momen ledakan besar yang menandai lahirnya alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun lalu.
Dalam skenario Big Crunch, ekspansi kosmos akan berbalik arah. Galaksi yang kini saling menjauh akan mulai bergerak mendekat, bintang-bintang akan bertumbukan, dan seluruh materi di alam semesta pada akhirnya tersedot ke satu titik tunggal.
Prediksi ini didasarkan pada kajian terbaru tentang energi gelap (dark energy) — kekuatan misterius yang selama ini dianggap mendorong alam semesta mengembang.
Fisikawan Henry Tye dari Cornell University bersama timnya menggunakan data terbaru yang menunjukkan bahwa konstanta kosmologis, nilai yang menggambarkan sifat energi gelap, mungkin bernilai negatif.
“Data terbaru ini tampaknya menunjukkan bahwa konstanta kosmologis memiliki nilai negatif, dan itu berarti alam semesta pada akhirnya akan berakhir dalam sebuah Big Crunch,” kata Tye, seperti dikutip Popular Science, Rabu (8/10/2025).
Dari Mengembang ke Menyusut
Selama beberapa dekade, teori dominan dalam kosmologi menyatakan bahwa alam semesta akan mengembang selamanya. Keyakinan ini berakar dari pandangan bahwa energi gelap bersifat “repulsif” — menolak gravitasi dan memperluas ruang antargalaksi. Namun, hasil terbaru dari dua proyek besar, Dark Energy Survey (DES) dan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI), memberikan gambaran yang berbeda.
Ketika para ilmuwan memasukkan data baru itu ke dalam model kosmik, mereka menemukan hasil mengejutkan: konstanta kosmologis yang tadinya dianggap positif justru cenderung negatif. Artinya, bukannya memperluas alam semesta tanpa batas, energi gelap mungkin justru berperan menarik semuanya kembali — seperti pegas kosmik yang akhirnya melepas tarikan balik.
Kapan Akhir Itu Akan Tiba?
Menurut simulasi dalam studi tersebut, alam semesta akan mencapai titik pengembangan maksimumnya sekitar 11 miliar tahun dari sekarang. Setelah itu, ekspansi berhenti dan proses penyusutan perlahan dimulai. Gravitasi dan konstanta negatif akan bekerja sama menarik semua materi kembali menuju pusat.
Proses ini tidak terjadi seketika. Butuh waktu yang sangat panjang — sekitar 33 miliar tahun sejak awal terbentuknya alam semesta — hingga akhirnya seluruh ruang, waktu, dan materi runtuh menjadi satu titik padat, lalu lenyap. Saat itulah Big Crunch mencapai puncaknya: sebuah “akhir” dari kosmos seperti yang kita kenal.
Bersanding dengan Teori Lain
Hipotesis Big Crunch bukan satu-satunya teori tentang bagaimana alam semesta bisa berakhir. Dua skenario lain yang juga banyak dibahas adalah “Big Rip” — di mana energi gelap semakin kuat hingga merobek semua struktur di alam semesta, dan “Long Freeze” — di mana kosmos terus mengembang hingga menjadi dingin, kosong, dan beku selamanya.
Namun, berbeda dari dua teori tersebut, Big Crunch menawarkan pandangan yang lebih siklikal: bahwa alam semesta bisa lahir, mati, dan mungkin… lahir kembali. Dalam pandangan ini, akhir bukanlah kehancuran mutlak, melainkan permulaan bagi siklus kosmik baru.
Masih Sebatas Hipotesis
Meski terdengar menakutkan, prediksi ini masih berupa hipotesis. Energi gelap dan materi gelap — dua komponen misterius yang menguasai sekitar 95% isi alam semesta — masih belum sepenuhnya dipahami. Data baru bisa saja mengubah pandangan ini di masa depan.
Namun, satu hal menarik dari penelitian ini adalah kesadarannya bahwa alam semesta mungkin tidak abadi. Seperti diungkap Henry Tye,
“Pada tahun 1960-an, kita mengetahui bahwa alam semesta memiliki sebuah permulaan. Sangat menarik untuk memikirkan bahwa, jika data ini bertahan, alam semesta juga akan memiliki sebuah akhir.”





![Ilustrasi. [Pict. mahb.stanford.edu]](https://jazirah.id/wp-content/uploads/2022/12/Ilustrasi-3-300x178.jpg)