Jazirah Indonesia – Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun menggelar diskusi ilmiah bertajuk Konflik Timur Tengah dan Dampak Perekonomian Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di FIB Kampus II Gambesi, Jumat (6/3/2026), dan dirangkaikan dengan buka puasa bersama civitas akademika.
Diskusi tersebut menghadirkan dosen Ilmu Sejarah, Nani Jafar, M.A, sebagai narasumber utama. Ratusan mahasiswa, dosen, dan alumni tampak antusias mengikuti pemaparan yang membahas keterkaitan dinamika geopolitik Timur Tengah dengan kondisi ekonomi Indonesia.
Koordinator Program Studi Ilmu Sejarah FIB, Jainul Yusup, dalam sambutannya menegaskan pentingnya mahasiswa sejarah memahami peristiwa global secara kritis. Menurutnya, konflik di Timur Tengah bukan fenomena baru, melainkan akumulasi ketegangan panjang yang berakar dari sejarah kolonialisme hingga perebutan sumber daya.
“Mahasiswa sejarah harus mampu membaca fenomena kontemporer dengan pendekatan historis, sehingga dapat memahami kompleksitas konflik yang terjadi saat ini,” ujar Jainul.
Akar Konflik Timur Tengah Dibedah
Dalam sesi pemaparan, Nani Jafar menjelaskan bahwa banyak konflik di Timur Tengah berakar dari penetapan batas wilayah setelah Perang Dunia I. Pembagian wilayah yang tidak mempertimbangkan dinamika etnis dan politik lokal memicu berbagai konflik kedaulatan hingga hari ini.
Selain itu, konflik berkepanjangan juga memicu krisis kemanusiaan yang berdampak pada meningkatnya jumlah pengungsi serta memengaruhi kebijakan luar negeri banyak negara, termasuk negara-negara Muslim seperti Indonesia.
Menurut Nani, Indonesia tetap konsisten menyuarakan perdamaian dalam forum internasional sesuai amanat konstitusi.
Konflik Timur Tengah Berpengaruh ke Ekonomi Indonesia
Diskusi juga menyoroti bagaimana konflik di Timur Tengah dapat berdampak langsung pada kondisi ekonomi Indonesia.
Nani menjelaskan bahwa gangguan stabilitas di kawasan strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah dapat memicu efek domino pada sektor energi, logistik, hingga nilai tukar.
Beberapa dampak yang berpotensi terjadi antara lain: Kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan distribusi energi dari negara produsen di Timur Tengah. Meningkatnya biaya logistik global, terutama pada jalur pelayaran internasional. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian ekonomi global.
“Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada konflik yang benar-benar terlokalisasi di era globalisasi. Apa yang terjadi di Palestina atau Teluk bisa terasa dampaknya hingga pasar tradisional di Ternate dan Maluku Utara,” kata Nani.
Diskusi Ditutup dengan Buka Puasa Bersama
Setelah sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti dosen, mahasiswa, dan alumni. Suasana keakraban terasa di lingkungan FIB Kampus II Gambesi saat azan magrib berkumandang.
Hidangan takjil khas Ternate turut melengkapi kebersamaan yang menjadi momen refleksi dan penguatan solidaritas antar civitas akademika.
Jainul berharap kegiatan diskusi ilmiah seperti ini dapat dilakukan secara rutin agar mahasiswa sejarah semakin kritis dalam memahami dinamika global. “Mahasiswa sejarah harus menjadi analis yang tajam terhadap peristiwa masa lalu agar mampu membaca arah masa depan,” ujarnya.





![Sidang Terbuka Senat Poltekkes Kemenkes Ternate dalam rangka Wisuda ke-23 Program studi Diploma Tiga Tahun Akademik 2023/2024. [Foto. Ist.]](https://jazirah.id/wp-content/uploads/2024/10/2-7-300x178.jpg)



