Jazirah Indonesia – Ruang rapat lantai dua Gedung Dekanat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair) siang itu tak sekadar menjadi tempat pertemuan formal. Selama tiga jam, ruang itu dipenuhi gagasan, harapan, sekaligus kegelisahan mahasiswa yang selama ini mencari ruang untuk didengar.
Rapat koordinasi perdana yang digelar Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni, Jainul Yusup, bersama jajaran pimpinan dekan yang baru dilantik sehari sebelumnya, menjadi titik awal upaya membangun hubungan yang lebih setara antara birokrasi kampus dan organisasi mahasiswa.
Di hadapan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Jainul menyampaikan pesan yang sederhana namun penting yakni kemahasiswaan bukan sekadar urusan administrasi, melainkan ruang kolaborasi.
“Pintu dekanat selalu terbuka. Kita bukan sekadar atasan dan bawahan, tetapi rekan yang bekerja bersama untuk meningkatkan prestasi mahasiswa,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Pernyataan itu menjadi penanda perubahan pendekatan dari yang sebelumnya cenderung formal dan berjarak, menuju hubungan yang lebih dialogis dan partisipatif.
Dalam pemaparannya, pihak dekanat menegaskan tiga fokus utama. Pertama, peningkatan prestasi mahasiswa melalui dukungan pendanaan dan pendampingan untuk ajang seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan pemilihan mahasiswa berprestasi.
Kedua, penguatan kerjasama eksternal yang membuka peluang magang dan kolaborasi dengan dunia industri. Langkah ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan akademik dengan realitas dunia kerja.
Ketiga, pembangunan database alumni. Bukan sekadar pendataan, tetapi sebagai upaya membangun jejaring yang dapat membantu mahasiswa aktif dalam merancang masa depan mereka.
Di sisi lain, program-program akademik bernuansa kultural juga mulai dirancang. Salah satunya adalah agenda bedah buku karya dosen dan mahasiswa yang dijadwalkan mulai Mei mendatang, bergilir antar program studi.
Namun rapat itu tidak hanya diisi pemaparan dari pihak dekanat. Sesi dengar pendapat justru menjadi momen paling hidup. Perwakilan BEM, HMJ, hingga UKM menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi.
Mulai dari keterbatasan dana kegiatan, fasilitas sekretariat yang belum memadai, hingga prosedur birokrasi yang dinilai berbelit saat meminjam fasilitas kampus.
Ketua BEM FIB, Arya Fitra, menyampaikan harapannya agar forum seperti ini tidak berhenti sebagai seremonial awal kepemimpinan.
Ia menekankan pentingnya konsistensi komunikasi antara mahasiswa dan pihak fakultas.
“Kami berharap kebutuhan dasar seperti sekretariat, ruang teater, hingga pelatihan-pelatihan seperti jurnalistik dan film bisa menjadi perhatian bersama. Ini bukan hanya soal fasilitas, tapi ruang ekspresi mahasiswa,” ujarnya.
Pertemuan itu mungkin belum menghasilkan keputusan besar. Namun, ada sesuatu yang lebih penting mulai terbentuk: kepercayaan.
Di tengah dinamika kampus yang seringkali diwarnai jarak antara mahasiswa dan birokrasi, ruang dialog seperti ini menjadi langkah awal untuk saling memahami.
FIB Unkhair kini tengah mencoba menata ulang arah kemahasiswaannya, tidak lagi sekadar administratif, tetapi juga transformatif.
Dan seperti yang terlihat dalam rapat perdana itu, perubahan besar sering kali dimulai dari hal sederhana: duduk bersama, mendengar, dan membuka diri untuk bekerja sebagai mitra. (*)










![Sidang Terbuka Senat Poltekkes Kemenkes Ternate dalam rangka Wisuda ke-23 Program studi Diploma Tiga Tahun Akademik 2023/2024. [Foto. Ist.]](https://jazirah.id/wp-content/uploads/2024/10/2-7-300x178.jpg)