Jazirah Indonesia – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (BEM FIB) Universitas Khairun (Unkhair) menghadirkan ruang dialog kebudayaan melalui Pentas Seni dan Talkshow Kebudayaan di Benteng Oranje, Ternate, Minggu (16/8/2026) malam.
Kegiatan yang digelar sehari menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu mengangkat tema “Kebudayaan sebagai Ruang Kritik dan Transformasi Sosial” dengan tajuk “Kebudayaan sebagai Instrumen Perubahan Sosial”.
Bukan sekadar pertunjukan seni, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa, akademisi, anggota DPRD Kota Ternate, dan aktivis untuk membicarakan posisi kebudayaan di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FIB Unkhair Nurain Jalaluddin, S.S., M.A. Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang menghadirkan kebudayaan, seni, dan gagasan dalam satu ruang diskusi.
Menurut Nurain, kegiatan semacam itu penting karena mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang akademik di dalam kampus, tetapi juga ruang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membaca persoalan sosial di sekitarnya.
Wakil Dekan III FIB Unkhair Jainul Yusup, S.S., M.Hum., sejumlah dosen, serta mahasiswa FIB Unkhair turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Talkshow menghadirkan Dr. Nurlaela Syarif, S.Sos., M.M., Dr. Syahrir Ibnu, M. Rizal Riski Ramli, S.Sos., dan M. Andiansyah Kamu, S.Sos.
Diskusi membedah kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai tarian, bahasa, pakaian, atau tradisi, tetapi sebagai sesuatu yang hidup dan terus berhadapan dengan perubahan zaman.
Para narasumber menyoroti pentingnya menjaga identitas dan nilai sakral dalam tradisi. Namun, pelestarian budaya dinilai tidak berarti membekukan kebudayaan dalam bentuk masa lalu.
Sebaliknya, kebudayaan perlu diberi ruang untuk berkembang agar nilai-nilainya tetap relevan dan dapat hidup di tengah masyarakat yang terus berubah.
Perubahan nilai dalam kehidupan sosial juga menjadi salah satu bahasan. Peserta diajak melihat bukan hanya apa yang berubah, tetapi juga bagaimana perubahan tersebut terjadi dan siapa yang memperoleh manfaat dari perubahan itu.
Perspektif tersebut menempatkan kebudayaan bukan sebagai objek yang hanya perlu dilestarikan, melainkan sebagai bagian aktif dari kehidupan sosial.
Diskusi juga mengangkat kebudayaan sebagai medium kritik terhadap realitas sosial.
Kritik, dalam konteks tersebut, tidak selalu harus disampaikan melalui aksi demonstrasi. Gagasan dan kegelisahan terhadap persoalan sosial dapat disuarakan melalui dialog, puisi, musik, teater, tari, maupun bentuk ekspresi budaya lainnya.
Dengan cara itu, seni dapat menjadi bahasa alternatif bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.
Setelah talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni yang menampilkan musik, tari, dan teatrikal oleh mahasiswa baru FIB Unkhair.
Pertunjukan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kreativitas sekaligus menerjemahkan gagasan kebudayaan melalui ekspresi seni.
BEM FIB Unkhair berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda pertunjukan. Ruang kebudayaan diharapkan terus menjadi tempat mahasiswa berdialog, menyampaikan kritik, merawat identitas, dan membaca perubahan sosial.
Di tengah perubahan zaman, kebudayaan akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana masa lalu dipertahankan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menentukan arah masa depannya. (*)










