oleh

Sejarah dan Makna Tari Tide-Tide Dari Maluku Utara

banner 1200x500

Jazirah Indonesia – Tari Tide-tide merupakan tarian khas Halmahera Utara Maluku Utara yang biasa ditarikan pada acara adat tertentu seperti pesta perkawinan adat atau acara adat lainnya.

Tari Tide-Tide biasa dibawah oleh kelompok penari pria dan wanita yang berjumlah 12 orang sambil diiringi tabuhan tifa, gong dan biola. Tarian ini sangat digemari oleh warga di daerah ini dan umumnya di Maluku utara,

Melansir kompas.com, tarian ini merupakan tarian pergaulan sejenis tari ronggeng. Sejarah Tari Tide-tide Tari Tide-tide dipengaruhi budaya Islam dan Melayu. Hasil alkuturasi budaya ini sudah ada di Maluku Utara sejak abad ke XIV.

Wujudnya dapat dilihat dari orkes pengiring tari, yaitu tifa, rebana, dan suling. Setelah bangsa Eropa (Portugis) masuk, Tari Tide-tide mengalami perubahan terutama pada orkes pengiring.

Seperti jika dahulu, orkes pengiring menggunakan rebana diganti dengan biola, lalu suling diganti harmonika.

Pengaruh portugis juga terlihat dalam penggunaan sapu tangan sebagai ornamen tarian. Tari Tide adalah sebuah maha karya yang dihasilkan oleh buah pemikiran manusia tentang gambaran sosial budaya masyarakat setempat. Pemikiran tersebut dituangkan dalam gerakan dan lantunan musik pengiring.

Tari Tide-tide sudah ada sejak zaman dahulu. Menurut cerita masyarakat setempat, tarian muncul dari sebuah nyanyian atau lantunan.

Hingga kini, tarian terus dilestarikan pada generasi penerus yang ada di Tobelo, kecamatan yang terdapat di Halmahera Utara. Makna Tari Tide-tide Secara umum, Tari Tide-tide menggambarkan kehidupan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Tari Tide-tide juga dikenal sebagai tari pergaulan yang kemudian menjadi hiburan rakyat, yang biasa di tarikan dalam prosesi perkawinan atau sunatan. Tari Tide-tide juga diartikan sebagai kesuburan Sebagai tarian adat, Tari Tide-tide merupakan bentuk tarian tradisional yang sangat kuno, Tari ini aslinya tidak bersifat liris atau emosional, tari ditarikan secara berduet oleh putera-puteri dalam 2 sampai 6 pasangan, baik oleh anak-anak maupun dewasa.

Tari Tide-tide merupakan tarian rakyat yang juga ditampilkan dalam penyambutan tamu maupun pesta rakyat.

Gerakan Tari menggambarkan kebersamaan, kekompakan, dan pergaulan di antara penari. Meskipun sebagai peninggalan nenek moyang di daerah Halmahera, tarian tetap menjadi bagian masyarakat Halmahera sampai sekarang.

Gerakan Tari Tide-tide Tarian lebih menampilkan gerakan kaki dan terutama tangan kanan. Gerakan-gerakannya memiliki makna sebagai bahasa pergaulan.

Disamping itu, ada gerakan yang berbeda antara perempuan yang sudah menikah dan yang belum menikah. Tari Tide-tide yang dilakukan oleh perempuan yang telah menikah memiliki gerakan melingkar keluar (artinya, ia menolak).

Sedangkan, gerakan yang dilakukan perempuan yang belum menikah adalah gerakan tangannya melingkar ke dalam. Maksudnya, ia masih boleh bersahabat dengan siapa saja. Ada juga gerakan mengayunkan langkah, baik maju, mundur, maupun ke samping.

Gerakan kaki penari laki-laki, yaitu menyamping sambil terus melangkah maju, menggambarkan kehidupan seorang laki-laki yang harus terus dilewati.

Sementara, gerakan mengayun pada kaki penari perempuan menggambarkan bahwa dalam kehidupan, perempuan harus banyak berpikir sebelum melangkah dan mengambil keputusan. Gerakan lainnya adalah gerakan menari sambil jongkok dan gerakan berpegangan tangan seperti dansa. Selain itu,

Tari Tide-tide mempunyai sanksi untuk penarinya, terutama penari laki-laki, yaitu, kalau pasangannya (penari wanita) telah menikah maka selama menari, ia tidak boleh diganggu lagi. Artinya dalam gerakan tari, penari laki-laki boleh berdekatan, namun ia tidak boleh menyentuh.

Dalam pesta pernikahan, biasanya penari berasal dari keluarga kedua mempelai, yaitu keluarga mempelai perempuan dan mempelai laki-laki. Maknanya, tarian sebagai cara untuk menjalin persahabatan, kekompakan, dan kebersamaan.

Tarian diiringi dengan tifa, gong, dan biola. Baca juga: Keunikan Alat Musik Fu, Maluku Utara Kostum Penari Tari Tide-tide Para penari Tide-tide menggunakan kostum daerah.

Penari laki-laki memakai kemeja putih yang menandakan kesucian dengan celana panjang hitam. Bagian kepala menggunakan tuwala (ikat kepala) dan bagian pinggang diikat dengan selendang. Umumnya, kain dan selendang ini berwarna merah sebagai simbol kegagahan dan kejantanan.

Para penari perempuan mengenakan kebaya putih lengan panjang dengan tujuh buah kancing warna emas di bagian depan. Di bagian pundak dilingkarkan selendang kotak persegi. Kebaya putih ini dipadu padankan dengan sarung khas Maluku.

Rambut penari perempuan dibentuk model sanggul dan diberi hiasan berupa burung cendrawasih dan tujuh buah kembang goyang yang menandakan tujuh tahapan yang dilalui perempuan sejak lahir hingga dewasa.

Dalam perkembangannya tarian mendapatkan berbagai modifikasi baik busana maupun gerak, namun tidak menghilangkan keasliannya.

Tari Tide-tide tetap digemari masyarakat lokal sebagai identitas budaya setempat. Pada 2016, Tari Tide-tide ditatapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Maluku Utara.

Komentar