Oleh : M. Julham
(Pecinta Sepak Bola Maluku Utara)
Sepinya stadion saat Malut United bermain di kandang bukan lagi sekadar isu teknis pertandingan. Ia telah menjelma menjadi persoalan struktural yang menyentuh jantung klub: hubungan antara manajemen, tim dan suporter. Ketika tribun kosong dan atmosfer kandang memudar, yang dipertaruhkan bukan hanya citra pertandingan, tetapi masa depan identitas klub itu sendiri.
Dalam beberapa laga kandang terakhir, publik dengan mudah menemukan kursi kosong di berbagai sudut stadion. Fenomena ini kemudian direspons dengan beragam pembenaran. Tiket dianggap mahal. Cuaca sore hari terlalu panas. Jadwal dinilai tidak ramah penonton. Semua alasan itu terdengar rasional, bahkan manusiawi. Namun jika ditarik lebih dalam, alasan-alasan tersebut justru membuka masalah yang lebih serius: kegagalan kolektif dalam merawat ekosistem sepak bola Maluku Utara.
Dari sisi suporter, muncul pertanyaan mendasar tentang makna loyalitas. Sepak bola tidak pernah tumbuh dari kenyamanan semata. Sejarah klub-klub besar, bahkan di daerah dengan infrastruktur minim, dibangun oleh dukungan publik yang setia dalam kondisi apa pun.
Ketika dukungan mulai disyaratkan oleh harga, cuaca, atau kenyamanan tertentu, maka yang sedang terjadi adalah pergeseran nilai: dari loyalitas menjadi transaksi. Suporter datang bukan lagi karena rasa memiliki, melainkan karena pertimbangan untung-rugi sebagai konsumen.
“Sepak bola adalah untuk suporter. Ini bisa menjadi permainan terhebat di dunia, tetapi jika tidak ada orang yang menontonnya, itu tidak berarti apa-apa. Suporter adalah darah kehidupan permainan ini,” kata Jock Stein, Legenda Celtic.
Namun, kritik kepada suporter tidak boleh berhenti pada moralitas semata. Loyalitas tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk, dirawat, dan dipelihara. Di sinilah tanggung jawab terbesar justru jatuh ke pundak manajemen Malut United. Klub ini tampak belum sepenuhnya memahami karakter sosial dan ekonomi pendukungnya sendiri. Penetapan harga tiket yang kaku, minim diferensiasi, serta kurangnya skema promosi kreatif menunjukkan bahwa manajemen gagal membaca realitas lokal.
Dalam konteks Maluku Utara, kebijakan sepak bola tidak bisa disalin mentah-mentah dari kota besar. Ia harus kontekstual, adaptif, dan sensitif terhadap kondisi masyarakat.
Lebih dari itu, pengalaman menonton di stadion seolah tidak pernah menjadi prioritas utama. Di banyak klub modern, pertandingan kandang adalah sebuah peristiwa sosial: ada hiburan, interaksi, kenyamanan dasar, dan rasa dihargai sebagai penonton.
Di Malut United, stadion masih diperlakukan sebatas tempat pertandingan, bukan ruang publik yang hidup. Akibatnya, publik tidak merasa kehilangan apa pun ketika memilih menonton dari rumah atau bahkan tidak mengikuti pertandingan sama sekali.
Yang paling mengkhawatirkan adalah kesan bahwa situasi ini tidak diperlakukan sebagai krisis. Sepinya stadion seolah dianggap sebagai sesuatu yang wajar, bahkan dibiarkan berulang tanpa evaluasi terbuka. Tidak terlihat komunikasi yang jujur antara klub dan suporter. Tidak ada narasi besar yang dibangun untuk mengajak publik kembali ke stadion. Padahal, dalam sepak bola, komunikasi emosional sama pentingnya dengan strategi di atas lapangan.
Sepinya dukungan kandang juga berdampak langsung pada performa tim. Pemain kehilangan energi tambahan yang seharusnya datang dari tribun. Stadion kandang berubah menjadi ruang netral, bahkan kadang terasa seperti tekanan. Ini adalah kerugian strategis yang nyata. Klub yang tidak kuat di kandang hampir selalu kesulitan bersaing secara konsisten.
Situasi ini menunjukkan satu hal: Malut United sedang menghadapi krisis identitas. Klub ini belum sepenuhnya menjadi milik publiknya, dan publik pun belum sepenuhnya merasa memiliki klub ini. Hubungan yang seharusnya bersifat emosional dan ideologis tereduksi menjadi hubungan administratif. Selama kondisi ini dibiarkan, stadion akan terus kehilangan suaranya, dan Malut United akan berjalan tanpa roh.
Maka, perubahan harus dimulai dari keberanian mengakui kegagalan. Manajemen harus turun dari menara kebijakan dan benar-benar mendengar suara publik. Penyesuaian harga tiket, penataan jadwal yang lebih ramah, inovasi pengalaman menonton, serta komunikasi yang jujur dan terbuka bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Di sisi lain, suporter juga harus kembali merefleksikan perannya. Dukungan tidak boleh bersyarat terus-menerus, karena tanpa kehadiran mereka, klub ini tidak akan pernah tumbuh menjadi kebanggaan daerah.
Stadion yang kosong hari ini adalah peringatan keras. Jika tidak segera direspons, yang akan benar-benar hilang bukan hanya penonton, tetapi kepercayaan. Dan ketika kepercayaan publik runtuh, tidak ada strategi pemasaran atau prestasi sesaat yang mampu mengembalikannya dengan mudah.
Malut United masih punya waktu untuk berbenah. Tetapi waktu itu tidak panjang. Sepak bola selalu memberi ruang bagi mereka yang mau berubah, dan selalu meninggalkan mereka yang memilih abai. #TOMA……..!!!! (***)









