oleh

Menghidupkan Kembali Pemikiran Ki Hajar Dewantara?

banner 1200x500

Jazirah Indonesia – Sebuah ajakan yang mewarnai peringatan Hari pendidikan Nasional 2 Mei 2021 tentang menghidupkan kembali pemikiran tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara, tak lebih menjadi pertanyaan tentang kemana konsep pendidikan Indonesia selama ini.  

“Mulai hari ini, pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia tersebut haruslah kita jiwai dan kita hidupkan kembali agar lekas tercipta pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia, serta terwujudnya kemerdekaan belajar yang sejati,” ujar Nadiem dalam pidatonya pada peringatan Hardiknas, seperti dikutip dari Antara, Minggu (2/5/2021).

Ajakan itu semacam terbangun dari mimpi atau suatu kesadaran baru setelah selama ini mempraktekan konsep pendidikan tanah air dengan cara-cara yang dipertanyakan dalam mendukung dan menghidupkan generasi bangsa.

Penulusuran Jazirah Indonesia, pemikiran KH Dewantara tentang pendidikan dengan menyimak penggalian Ringgana Wandy Wiguna, diakui belum sepenuhnya dieksplorasi sejalan problem pendidikan bangsa selama ini.

Melalui buku pendidikan, konsep dasar pendidikan dikemukakan Ki Hajar Dewantara, menempatkan kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian serta kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri membela perjuangan bangsanya.

Pada kesempatan peringatan Hardiknas, 2 Mei 20201,  Menteri Nadiem mengungkap pemikiran terhebat tokoh pendidikan ini kembali.

Nadiem yang tampil dengan pakaian adat Rote NTT dalam upacara Peringatan Hardiknas 2021, mengakui sudah terlalu lama pemikiran Ki Hajar Dewantara tidak dimanfaatkan sepenuhnya.

Pendidikan di Indonesia haruslah menuju arah lahirnya kebahagiaan batin serta juga keselamatan hidup. Esensi mendasar pendidikan haruslah memerdekakan kehidupan manusia.

“Ini merupakan momen yang tepat bagi kita untuk merefleksikan kembali apa saja yang sudah dikerjakan dengan baik dan apa saja yang perlu diperbaiki. Lembaran baru pendidikan Indonesia berarti transformasi. Transformasi yang tetap bersandar pada sejarah bangsa, dan juga keberanian menciptakan sejarah baru yang gemilang,” tuturnya.

Korelasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Selain mengetengahkan konsep pendidikan yang universal, suatu konsepsi pendidikan yang dikembangkan dari Ki Hajar Dewantara, diangkat akar pendidikan sesuai nilai lokalitas yang dirasakan terupdate hingga saat ini.

Dimana konsentrasinya pada nilai tradisional orang jawa oleh Ki Hajar Dewantara yang dapat mengimplemntasikan nilai lokal nusantara, tentang musik dan tarian tradisional.

Disamping itu, mata pelajaran yang berasal dari Barat juga diajarkan beliau agar membantu siswa mengatasi tuntutan kehidupan modern saat ini. 

Menurut Ringgana Wandy Wiguna melalui laman ruangguru.com menuliskan, cara yang dibuat Ki Hadjar Dewantara ini menghasilkan banyak sekali keuntungan untuk bangsa Indonesia.

Selain masyarakatnya diajari untuk menjadi terdidik dan tidak ketinggalan zaman, ia juga menciptakan sistem pembelajaran berbasis kebudayaan untuk tetap mempertahankan kebudayaan asli Indonesia. 

Ringgana dalam naskahnya, menganalisis pemikiran Ki Hajar dengan mencontohkan kata “Gaes”, yang dimaksud dengan berbasis kebudayaan itu adalah dalam sistem pembelajarannya murid diajarkan tentang apa saja yang ada di Indonesia.

Dicontohkan, budaya, bahasa, dan banyak hal lagi tentang ke-Indonesiaan. Hal ini ditujukan untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme dari peserta didik.

Pembelajaran terkait kebudayaan oleh Ki Hajar ini, menurut eksplorasi Ringgana, untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme ini yang menjadi tombak perjuangan orang-orang Indonesia untuk mengusir Belanda. Karena ini juga keberadaan Taman Siswa ditakuti oleh pemerintahan Belanda.

Pendekatan Tokoh Pendidikan Dunia Hingga Penyair

Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah sebuah cara terbaik untuk memperkuat orang Indonesia, dan ia sangat dipengaruhi oleh banyak teori yang melandasi cara berpikirnya.

Salah satunya adalah pemikir teori pendidikan reformis dari Italia, Maria Montessori. Dia juga banyak dipengaruhi oleh penyair dan filsuf asal India yakni Rabindranath Tagore. 

Pemikiran yang diambil dari Maria Montessori adalah terkait pendidikan usia dini. Hal yang diterapkan pada pendidikan Montessori adalah bagaimana peserta didik memiliki kebebasan dalam belajar, tempat belajar yang menyenangkan dan dapat membangun karakter peserta didik dengan metode bernyanyi dan menari.

Untuk pemikiran dari Tagore diambil oleh Ki Hadjar Dewantara dari sisi konsep kebebasan dan merdeka yang beliau terapkan dalam sistem pembelajaran Taman Siswa.

Dari sebuah taman misalnya dieksplor pemikiran Ki Hajar oleh Ringgana, “siapa yang suka belajar tanpa tekanan? atau punya kebebasan berpikir apapun? suka  tentunya. Tidak ada lagi dimarahin guru, atau takut belajar di sekolah”, tulis Ringgana.

Pemikiran Ki Hajar disimak banyak membantu masyarakat Indonesia dalam mengenyam pendidikan, dan setelah Indonesia merdeka, beliau diangkat menjadi menteri pendidikan oleh presiden Soekarno.

Karena ketulusan hatinya untuk membangun bangsa Indonesia dengan pemikirannya dan jerih payahnya membuat sistem pendidikan, Beliau dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional.

Pendidikan Indonesia Saat Ini

Dia menanyakan beberapa pertanyaan, konsep pendidikan yang sudah dijelaskan panjang lebar oleh Ki Hajar, hanya saja seperti tak terasa di sistem pendidikan sekarang?

Banyak yang dilakukan Ki Hajar Dewantara untuk bangsa ini. Dari sisi ini, Ringgana menyerukan kita sekarang terus belajar dan menjadi orang yang cerdas dan berbudi luhur seperti cita-cita Ki Hadjar Dewantara yang menginginkan seluruh masyarakat Indonesia menjadi cerdas. 

“Sistem pendidikan di Indonesia memang memiliki kesamaan dengan sistem yang dibuat Bapak Pendidikan Nasional lho tapi, cuman di jargon “Tut Wuri Handayani” saja, itu lho yang ada di topi atau di bet sekolah”, tulis Ringgana.

Menurutnya, secara keseluruhan pendidikan di Indonesia sudah jauh dari apa yang diterapkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Sistem yang ada sekarang adalah sistem yang sudah banyak mengadopsi berbagai sistem pembelajaran di berbagai negara. 

Sepantasnya kita menjadi bingung dengan sistem pembelajaran di Indonesia sekarang ini.

“Kalau kamu masih pusing ngerjain tugas, atau kamu terpaksa belajar suatu pelajaran yang tidak kamu suka. Jadi jangan aneh kalau berbeda dengan sistem pelajaran yang disusun Ki Hadjar Dewantara”, tandasnya.

Sistem yang dibuat oleh Ki Hadjar Dewantara menurut Ringgana, mirip dengan sistem pembelajaran yang ada di Finlandia. Di sana peserta didik berhak memilih mitat yang mereka sukai.

Diejelaskan, mereka akan belajar terkait minat mereka dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di sana juga sangat bebas dan merdeka dalam belajar.

Jika menjadi seruan menteri Nadiem saat ini, dan dari ungkapan konsep pendidikan Ki Hajar yang diekspolor Ringgana, Dia pun pertanyakan kembali, kemana sistem yang dibuat oleh Ki Hadjar Dewantara di sistem pendidikan kita selama ini.

“Who Knows lah ya kemanya nyaCara yang bisa kita lakukan adalah mencoba menerapkan apa yang baik dari sistem yang ada, dan menyebarkan pengetahuan kepada orang yang belum tahu”, tegas Ringgana dalam naskahnya.

Penulis : Nazirul
Editor : Nazirul

Komentar