oleh

Mengenang 8 Tahun Wafatnya Penulis “Pemberontakan Nuku”

 “Sebagai peneliti, meskipun miskin kita tidak boleh kehilangan integritas. Sudah miskin tidak punya integritas lagi…apa yang bisa diharapkan?’ (Dr. Muridan)

 

Jazirah Indonesia  – Hari ini, 7 Maret 2022, tepat 8 tahun wafatnya Dr. Muridan Satrio Widjojo, penulis yang kesungguhan mengenalkan Pangeran Nuku lebih detail di mata dunia. Semoga Almarhum senantiasa diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT, begitu juga  gagasan dan karya terhebatnya benar-benar terpatri pada generasi penerus Nuku.

Mengenang Muridan dan karyanya adalah mengenang bagian dari persoalan-persoalan yang masih melilit Maluku Utara begitu juga Indonesia hari ini. Problem sosial politik dan ekonomi yang seringkali menjadi perhatian tersendiri, demikian bisa menjadikan kita tidak meremehkan diskursus neokolonialisme.

Ekspresi Intelektualitas ini, Muridan terpanggil, lebih memilih Sejarah Pangeran Nuku menjadi fokus yang diangkat untuk memenuhi gelar doktor sejarah di Leiden University.

Perhatian Pria kelahiran Surabaya, 4 April 1967 ini pada sejarah Pangeran Nuku, berawal dari kecintaannya pada Papua, keseriusannya pada persoalan-persoalan di Papua membuat Dia banyak menghabiskan waktu tinggal di Papua. Demikian fokusnya pada Pangeran Nuku, karena keterkaitan sejarah Papua dan Tidore.

Untuk merangkum jejak sejarah Pangeran Nuku yang awalnya dalam memenuhi disertasenya, kemudian meghasilkan buku setebal 386 halaman memang bukan suatu pekerjaan muda. Bahkan yang menyulitkan di puncak karier, menyelesaikan riset disertasi, Muridan harus menanggung sakit, padahal baginya masih banyak yang harus Dia lakukan.

“Sayang sekali, ketika aku di puncak karir usai riset disertasi yang melelahkan, aku harus menanggung sakit,” tutur Muridan saat akan dilakukan diskusi buku Pemberontkan Nuku kala itu, dikutip dari prancis.fib.ui.ac.id.

Mengenang Muridan hari ini, merupakan jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai karyanya dengan kesungguhan mendalami dan bekerja untuk orang-orang yang dia cintai sebagaimana Muridan di Papua.

Bagimana tidak, berbagai arsip VOC di Den Haag dan Jakarta ditelusuri, kemudian arsip East India Company di London, Muridan berhasil mengungkap dua hal sekaligus tentang perlawanan Pangeran Nuku dari Kesultanan Tidore melawan domonasi Belanda serta sekutunya Sultan Tidore, Bacan dan Ternate.

Yakni pertama, pengungkapan tentang keberhasilan Nuku dalam perjuangannya berkat persekutuan lintas budaya yang menjangkau kepulauan Maluku dan Papua. Kedua, Nuku Piawai membangun koalisi dengan para pedagang Inggris serta memaksimalkan kedekatannya dengan East India Company. Demikian setelah 17 tahun memberontak, Nuku berhasil menguasai Tidore pada 1797.

Dengan pengungkapan ini, buku Pemberontakan Nuku merupakan karya ternama, bahkan sehari sebelum diuji (12 September 2007) di Leiden University, pada 11 September dipublikasi menjadi headline berita di media Nasional NRC Handelsblad.

Kemudian pada tahun 2009, atas hasil editan disertase Muridan ini menjadi buku, diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh penerbit “Brill” dengan harga jual  internasional, seharga  atau setara dengan Rp.1.131.000/ buah.

Demikian informasi ini menunjukan bahwa Buku “Pemberontakan Nuku, (Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780 – 1810)”  telah memberikan kontribusi dalam dunia pengetahuan sejarah yang sungguh luar biasa.

Tersentak ketika mendengar perkataan Dr. Muridan pada hari hari menjelang kepergiannya yang dikutip temannya, Riwanto Tirtosudarmo ahli demografi, peneliti senior di PMB-LIPI saat Muridan memberi sambutan dalam acara diskusi buku.

“Sebagai peneliti meskipun miskin kita tidak boleh kehilangan integritas”, Kemudian dilanjutkan, “Sudah miskin tidak punya integritas lagi…apa yang bisa diharapkan?’.

Ini merupakan gambaran kesungguhan seorang peneliti dan penulis ala Dr Muridan, yang dikeluarkan dari mulutnya saat saat sudah mengalami sakit.

Kesungguhannya tercermin, meski kurang sehat kala itu, Muridan menyempatkan hadir untuk melihat persiapan akhir sehari launching dan diskusi buku “Pemberontakan Nuku”, yang diselenggarakah oleh Program Studi Prancis bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Inndonesia (LIPI) di Auditorium Gedung IV FIB UI pada 16 September 2013.

“Aku masih banyak rencana dan gagasan yang belum sempat aku lakukan, tapi waktuku tak banyak,” katanya kala itu.

Pada tanggal 7 Maret 2014, 8 tahun yang lalu, Muridan Satrio Widjojo, Peneliti, Penulis Buku Pemberontakan Nuku, pengajar mata kuliah Dinamika Pemikiran Prancis dan suami Suma Riella Rusdiarti, M. Hum, menghembuskan nafas terakhirnya di RS Mitra Keluarga Depok.

Meski banyak yang dicita-citakannya, namun  Muridan tak kuasa melawan penyakit berat yang dideritanya selama 3  tahun menjelang wafat. Dosen yang sangat detil dalam menjelaskan teori-teori filsuf dan sejarawan Prancis, Fernand Braudel itu pun harus beristirahat dalam keabadian.

Desain peluncuran buku “Pemberontakan Nuku”, 16 September 2013 (sumber. prancis.fib.ui.ac.id)

Di Awal Karier Hingga Peneliti Spesialis Papua-Maluku Utara

Etape keterlibatan Muridan diawal kariernya menjadi pembelajaran penting bagi dunia aktifis dan peneliti. Dimana Muridan terlibat aktif dalam demonstrasi melawan Suharto pada tahun 1997-1998. Dia pun merangkum tulisan beberapa peneliti LIPI dan menghasil buku yang berjudul “Penakluk Rezim Orde Baru”.

Itulah Muridan memang dikenal sebagai aktivis sejak menjadi mahasiswa Sastra Prancis FSUI. Dia juga dikenal sebagai aktivis Jaringan Damai Papua (JDP) yang berjuang agar terjadi dialog damai antara Jakarta-Papua.

Di kala Muridan mulai giat di LIPI, Dia adalah salah seorang yang aktif ketika sejumlah peneliti muda Pusat Penelitian Politik – LIPI membuat sebuah petisi meminta Suharto mundur sebagai presiden. Sebuah keberanian yang tidak main-main bagi peneliti yang berstatus PNS saat itu.

Setelah Suharto jatuh, Muridan ke Belanda, melanjutkan studi di jurusan sejarah Leiden University. Sebelumnya dia termasuk yang akan dikirim ke Munster University di Jerman, sebagai bagian dari kerjasama PMB-LIPI dan Munster University.

Diceritakan Riwanto, Muridan mengembalikan aplikasi ke Munster dan menerangkan kenapa memilih Leiden meskipun dia tahu harus mempelajari arsip-arsip dalam bahasa Belanda.

Selain menulis sejarah Kesultanan Tidore sebagai tesis doktoralnya, Muridan sangat aktif menggalang diskusi-diskusi dan bersama Pak Mintardjo – “bapak angkatnya di Oesgeest” – mendirikan Yayasan Sapu Lidi yang didedikasikan untuk Indonesia.

Sepulang dari Belanda, meskipun bidang keahliannya adalah sejarah, Muridan kembali ke habitatnya – sebagai peneliti dan aktivis yang melibatkan dirinya untuk mencari jalan keluar bagi masalah-masalah Papua yag sangat pelik.

Sebagai peneliti, Muridan dikenal sebagai spesialis Papua dan Maluku Utara. Sejak 1993 karya-karyanya berfokus pada tema kebudayaan dan politik di Papua. Di Leiden Belanda dia mendalami arsip-arsip abad ke-18 dan 19 Maluku Utara yang terkait dengan sejarah Papua.

Sejumlah monograf, artikel dan buku sudah pernah dihasilkan. Beberapa di antaranya adalah Gerakan Mahasiswa 1998: Penakluk Rezim Orde Baru (Jakarta: Sinar Harapan, 1999), The Revolt of Prince Nuku (Leiden: Brill, 2009). Yang terbaru adalah Papua Road Map (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009). Versi Inggrisnya diterbitkan oleh KITLV Jakarta-Leiden dan ISEAS Singapura pada 2010.

Muridan juga menulis artikel di jurnal ilmiah internasional dan opini di sejumlah surat kabar dan majalah misalnya Kompas, Tempo dan lain-lain. Sejak 2008 Muridan memimpin tim kajian Papua LIPI dan sejak 2010 menjadi koordinator bersama Jaringan Damai Papua (JDP) yang bekerja secara sukarela memfasilitasi dialog antara masyarakat Papua dengan Pemerintah.

Sejak akhir 2010 doktor sejarah politik lulusan Universitas Leiden Belanda 2007 ini ditunjuk menjadi Kepala Bidang Politik Lokal di P2P LIPI. Peneliti alumnus UI (Magister Antropologi FISIP UI dan sarjana Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya [FIB]UI).

Di LIPI, Muridan yang dengan konsisten dan sungguh-sungguh mengarahkan penelitiannya tentang Papua. Sebelum sakit berbagai penelitian tentang Papua dikoordinirnya.

Salah satu “master piece” yang dihasilkan dari kerja keras tim peneliti yang dipimpinnya adalah sebuah buku yang berjudul “Papua Road Map” yang menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingi memahami konflik dan jalan keluar yang ditawarkannya.

Salah satu kelebihan Muridan dari peneliti-peneliti lain adalah keberanian dan keteguhannya untuk mengadvokasikan apa yang dia yakini sebagai jalan keluar bagi Papua.

Muridan tidak berhenti pada laporan penelitian, tetapi melakukan pendekatan, lobby, persuasi ke berbagai pihak, militer maupun sipil, di Jakarta maupun di Papua untuk membuka ruang-ruang dialog yang memungkinkan sebuah solusi damai bagi Papua. Sebagai orang non-Papua Muridan tahu betul bahwa yang harus dilakukan – diatas apapun – adalah memberikan hargadiri bagi Orang Papua.

Dia menghabiskan banyak waktu dipersembahkan untuk Papua yang damai tanpa kekerasan. Perjuangannya bertahun-tahun keluar masuk pedalaman Papua yang berat adalah bukti kecintaannya pada Papua.

“Papua adalah istri pertamanya, dan saya adalah istri keduanya,” ujar Riella, istri yang telah memberinya 2 anak kandung ‘Mereka juga memiliki 2 anak angkat yang ‘berasal dari Papua.

Serial dialog Papua yang hampir setengahnya selalu dihadiri oleh berbagai elemen yang mewakili masyarakat Papua itu adalah upaya kongkrit Muridan mengadvokasi perbaikan situasi yang tampaknya justru semakin memburuk di Papua.

Sepeninggal Muridan, siapakah yang mampu meneruskan membawa obor perjuangan itu. Muridan sangat menyadari betapa sulitnya jalan yang harus ditempuh, dia juga tahu tidak ada jalan pintas untuk mengatasi persoalan yang melilit Papua.

 

Komentar