Oleh: Syafruddin Djafar, S.Pd
Di Tengah Bobroknya Kekuasaan Konvensional, dimana Sikap Arif dan Kebijaksanaan Sultan se-Indonesia?
Kita hidup di masa yang penuh paradoks. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan arus informasi membuat dunia terasa semakin dekat. Di sisi lain, kita justru semakin sering bertanya: “Siapa sebenarnya kita ini sebagai bangsa?” Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Tanda-tanda hilangnya jati diri bangsa semakin terlihat nyata, dan sayangnya, bobroknya sistem kekuasaan konvensional justru memperparah keadaan ini.
Tanda-Tanda Jati Diri Bangsa yang Mulai Memudar
Jati diri bangsa bukan sekadar soal bendera atau lagu kebangsaan. Ia adalah nilai-nilai luhur, budaya, dan karakter yang membedakan kita dari bangsa lain. Sayangnya, banyak dari ini kini perlahan menghilang.
- Budaya Lokal Tergerus: Generasi muda lebih hafal budaya asing daripada tarian daerah atau kearifan lokal nenek moyang. Kita bangga mengadopsi tren luar negeri, tapi malu dengan identitas sendiri.
- Nilai Gotong Royong Melemah: Dulu, hidup bermasyarakat berarti saling bantu tanpa pamrih. Kini, individualisme semakin kuat. “Penting gue,” menjadi semangat baru yang menggantikan semangat kebersamaan.
- Hilangnya Etika dan Moral: Di ruang publik, sopan santun semakin langka. Mulut menjadi kasar, toleransi menipis, dan menghargai perbedaan dianggap beban. Padahal, itulah inti jati diri bangsa Indonesia: ramah, santun, dan menjunjung tinggi keberagaman.
Bobroknya Kekuasaan Konvensional: Penyebab Utama
Lantas, siapa yang harus disalahkan? Jawabannya seringkali ada pada sistem kekuasaan konvensional yang sudah lama berjalan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom rakyat, kini justru menjadi sumber masalah.
- Korupsi yang Mendarah Daging: Kekuasaan sering dijadikan alat untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Dana rakyat yang seharusnya untuk pendidikan, budaya, dan kesejahteraan, justru dikorupsi. Akibatnya, generasi muda tidak mendapat pendidikan karakter yang layak, dan jati diri pun semakin tergerus.
- Elitisme dan Kekuasaan Dinasti: Jabatan kekuasaan sering diwariskan atau dikuasai kelompok tertentu. Rakyat kecil tidak punya suara. Kekuasaan bukan lagi tentang melayani, tapi tentang “siapa yang paling kuat menguasai sumber daya”. Ini menciptakan ketidakadilan yang membuat rakyat semakin kehilangan kebanggaan terhadap negaranya.
- Kebijakan yang Tidak Visioner: Kebijakan sering lebih berfokus pada kebutuhan dan kepentingan jangka pendek. Sementara itu, upaya untuk melestarikan budaya, membangun karakter, dan memperkuat identitas nasional masih perlu mendapat perhatian yang lebih besar.
Hubungan Keduanya: Lingkaran Setan yang Berbahaya
Hilangnya jati diri bangsa dan bobroknya kekuasaan saling memperkuat. Ketika penguasa tidak punya integritas, rakyat pun kehilangan teladan. Ketika kebijakan tidak memihak rakyat, rasa cinta tanah air pun memudar. Akhirnya, yang tersisa adalah bangsa yang tidak punya arah, dan kekuasaan yang tidak punya malu.
Jalan Keluar: Membangun Kembali dari Akar
Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan masa lalu. Perubahan harus dimulai sekarang, dari dua sisi sekaligus:
- Dari Atas: Perbaiki Sistem Kekuasaan
- Hapus korupsi dan dinasti politik.
- Tegakkan hukum tanpa pandang bulu.
- Buat kebijakan yang berfokus pada pembangunan karakter dan pelestarian budaya bangsa.
- Dari Bawah: Kembalikan Jati Diri Bangsa
- Bangga dengan budaya sendiri, tanpa menutup mata terhadap dunia luar.
- Hidupkan kembali semangat gotong royong dan toleransi.
- Jadikan pendidikan karakter sebagai prioritas utama, bukan sekadar pendidikan akademik semata.
Peran Sultan — Penjaga Kebijaksanaan di Tengah Kerusakan Kekuasaan
Di tengah krisis jati diri dan bobroknya kekuasaan konvensional yang telah kita bahas, ada satu sosok dan lembaga yang kerap menjadi jangkar ketenangan dan kebijaksanaan bangsa — Sultan. Bukan sekadar gelar warisan, peran Sultan adalah cerminan kekuasaan yang sejati: kekuasaan untuk melindungi, bukan untuk menindas; untuk menyeimbangkan, bukan untuk mendominasi.
Sultan: Lambang Kekuasaan yang Berhati Kebijaksanaan
Berbeda dengan penguasa konvensional yang sering terjebak pada ambisi kekuasaan dan kepentingan pribadi, Sultan di kesultanan seperti Tidore dan Ternate — tanah tempat kita berdiri — memiliki fondasi yang berbeda. Kekuasaannya bukan milik pribadi, melainkan titipan rakyat dan amanah Tuhan.
- Sumber Kekuasaan yang Berbeda: Sultan tidak berkuasa atas rakyat, melainkan untuk rakyat. Ia berdiri di atas golongan, kelompok, dan kepentingan sesaat. Kebijaksanaannya lahir dari keseimbangan antara nilai agama, adat istiadat, dan kepentingan bersama.
- Penjaga Jati Diri Bangsa: Ketika budaya luhur mulai tergerus dan identitas bangsa kabur, Sultan adalah orang yang paling dulu menjaga api kebudayaan dan kearifan lokal. Ia tidak membiarkan bangsanya kehilangan akar, karena ia sendiri hidup di dalam akar tersebut.
- Penyeimbang di Tengah Perselisihan: Di masa lalu, di tengah perebutan kekuasaan dan persekutuan dengan bangsa asing, Sultan Tidore dan Ternate tetap berdiri teguh dengan prinsipnya — menjaga kemerdekaan, menghormati perbedaan, dan mencari jalan damai tanpa kehilangan martabat. Itulah esensi kebijaksanaan.
Peran Sultan Menjadi Obat bagi Kekuasaan yang Bobrok
Kekuasaan konvensional yang korup, elitis, dan jangka pendek, justru semakin menampung betapa pentingnya peran Sultan sebagai pelengkap sekaligus pengingat:
- Sultan Mengingatkan Bahwa Kekuasaan Itu Amanah: Saat penguasa biasa lupa diri karena jabatan, Sultan hadir sebagai pengingat — kekuasaan itu sementara, pertanggungjawabannya kekal. Tidak ada tempat untuk kesewenang-wenangan.
- Sultan Menjaga Keseimbangan di Atas Kepentingan Politik: Ketika politik memecah belah rakyat, Sultan berdiri di atasnya, menjaga persatuan dan keberagaman sebagai inti kebijaksanaan. Ia tidak memihak kelompok, melainkan memihak kebenaran dan keadilan.
- Sultan Membawa Visi Jangka Panjang: Kebijaksanaan Sultan tidak diukur dari suara pemilu atau keuntungan sesaat, melainkan dari dampaknya bagi generasi mendatang. Ia memikirkan masa depan bangsa, bukan hanya masa jabatannya.
Jati Diri Bangsa Tersimpan di Kebijaksanaan Sultan
Hilangnya jati diri bangsa sebagian terjadi karena kita melupakan sosok dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi para pemimpin bijak seperti Sultan. Jika kekuasaan konvensional memberi kita aturan, Sultan memberi kita jiwa. Jika sistem memberi kita kebijakan, Sultan memberi kita arah.
Maka, menjaga peran Sultan bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan mengambil kembali kebijaksanaan masa lalu untuk menyelamatkan masa depan. Di tengah arus dunia yang semakin bising dan kekuasaan yang semakin lupa diri, suara kebijaksanaan Sultan adalah suara akal budi bangsa yang tak boleh padam.
Penutup
Kita membutuhkan keduanya: sistem kekuasaan yang bersih dan peran kebijaksanaan yang hidup. Tanpa sistem yang baik, kebijaksanaan sulit berjalan. Tapi tanpa kebijaksanaan seperti yang dijunjung Sultan, sistem yang sempurna pun akan menjadi kosong dan dingin.
Mari kita hargai, jaga, dan hidupkan kembali nilai-nilai kebijaksanaan para Sultan. Karena di sanalah jati diri bangsa kita tersimpan rapi — dalam kerendahan hati, keadilan, dan cinta terhadap rakyat.
Hilangnya jati diri bangsa adalah kehancuran yang perlahan. Dan bobroknya kekuasaan konvensional adalah pemicunya. Jika kita tidak segera sadar dan bergerak memperbaikinya, maka kita hanyalah bangsa yang berpenduduk banyak, berwilayah luas, tapi tidak punya jiwa. Mari kita kembalikan jati diri bangsa ini, dan perbaiki kekuasaan agar kembali berfungsi untuk rakyat. Sebelum semuanya terlambat.
Rasulullah SAW bersabda:يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.
Arti Hadis”Hampir saja bangsa-bangsa (musuh Islam) saling mengajak untuk mengeroyok kalian, sebagaimana orang-orang yang lapar mengeroyok piring hidangan mereka.”Seseorang bertanya, “Apakah karena sedikitnya kami pada hari itu?”Beliau menjawab, “Bahkan kalian pada hari itu banyak, tetapi kalian bagaikan buih di atas air banjir. Allah benar-benar akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan menanamkan al-wahn di dalam hati kalian.”Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu?”Beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian.” (HR. Abu Dawud No. 4297)









