Jazirah Indonesia – Marwan Polisiri, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) provinsi Maluku Utara membuka pelatihan berbasis wirausaha untuk tenaga kerja mandiri barista coffee di kedai kopi J12, kota Tidore Kepulauan, Sabtu (7/8/2024).
Program pelatihan dan produktifitas tenaga kerja ini diikuti 30 peserta yang terdiri dari pemuda serta sejumlah pelaku UMKM di kota Tidore Kepulauan.
Sejak 2020 – 2024, Disnakertrans provinsi Maluku Utara telah melakukan pelatihan tenaga kerja yang diikuti sekitar 2.240 orang. Dimana pelatihan berbasis kompetensi (PBK) sebanyak 920 orang dan pelatihan kewirausahaan sebanyak 1320 orang.
Marwan mengatakan, pihaknya tidak hanya melakukan pelatihan untuk orang yang mau bekerja di industri pertambangan. Namun, pelatihan lain seperti wirausaha perlu dilakukan untuk memenuhi kecenderungan kerja orang yang berbeda-beda.
“Tidak semua orang mau kerja di perusahaan (industri tambang), makanya kami kasih pelatihan kewirausahaan (Barista kopi) sebagai salah satu bentuk,” kata mantan kepala Bappeda Kota Tidore Kepulauan tersebut.
Menurut Marwan, pihaknya memilih pelatihan barista lantaran melihat perkembangan kedai kopi yang begitu pesat diserta dengan inovasi olahannya.
“Kenapa saya mau bikin (pelatihan barista), karena saya melihat tren warung kopi itu lagi baguslah,” katanya.
Agar pelatihannya mudah dipahami, pihak Disnakertans menghadirkan barista kedai kopi J12, Alfandi Faruk untuk mendemonstrasikan langsung peracikan kopi dengan cara modern.
“Seperti membuat patung, kalau hanya terangkan teori orang tidak mengerti makanya kami langsung undang Al (Alfandi),” pungkasnya.
Al sapaan Alfandi, kemudian memperkenalkan satu per satu alat pengolahan biji kopi hingga diseduh menjadi minuman kopi.
Mulai dari grinder yang berfungsingsi sebagai penggiling biji kopi menjadi bubuk. Kemudian mesin ekspresso yang merupakan alat ekstraksi untuk menghasilkan saripati kopi.
Selain itu ada juga alat timbang hingga kompor pemanas dihadirkan Al diatas meja peraga.
“Rasa kopi tergantung dari kualitas biji kopinya, juga cara menyeduhnya,” ujar pria yang sudah membuka kedai kopi sejak 2014 itu.
Menurutnya, setiap racikan kopi yang dibuat orang yang berbeda, rasanya akan berbeda pula.
“Vietnam Drip misalnya, coba minum di kedai kopi yang lain, pasti rasanya berbeda,” ucap owner kedai kopi J12 itu.
Olehnya itu kata dia, konsistensi meracik kopi menjadi kunci seorang barista dalam menciptakan brendnya sendiri.
“Initinya yaitu konsisten, ketika orang minum kopi racikan saya, orang sudah tau rasanya ini adalah kopi J12,” katanya.
Pelatihan barista coffee tersebut dihadiri kepala Disnakertrans kota Tidore Kepulauan, Ruslan W. Yunus dan kepala bidang riset dan inovasi daerah Bapperida kota Tidore Kepulauan.










