oleh

Pembunuh Magellan Dikagumi Karena Melawan Intervensi Asing

banner 1200x500

Jazirah Indonesia – Kapal Latih Spanyol “Juan Sebastián Elcano” yang akan tiba di Filipina pada 16 Maret 2021 dalam perjalanan napak tilas pelayaran keliling dunia 500 tahun itu, mengingatkan sejarah tersendiri di Philipina.

Kedutaan Besar Spanyol di Manila dilanksir dari newsinfo inquire mengatakan,  kapal “Elcano,” akan tiba di Guiuan, Samar Timur, pada 16 Maret dan akan berada di pulau Suluan dan Homonhon hingga 18 Maret, kemudian di Cebu (provinsi Maggelan terbunuh) pada 20-22 Maret.

Kapal latih yang diberi nama seorang navigator pemberani dengan pengalaman militer Portugis di Afrika dan Asia tersebut, setelah dari Pilipina akan melanjutkan perjalanan menuju Maluku Utara dan tiba di Ternate dan Tidore pada 29 Maret mendatang.

Sejarah terbununhnya Magellan 500 tahun silam di Philipina (27 April 1521),  mengundang renungan khas. Pada 2018 Presiden Filipina Rodrigo Duterte menetapkan tanggal itu sebagai hari libur nasional bagi Filipina.

Penetapan itu sebagai bentuk penghormatan kepada Kepala Suku Datuk Lapu-Lapu, dan anak buahnya sebagai pembunuh Magellan selama Pertempuran Mactan di Provinsi Cebu Filipina.

Magellan dikenal pria yang sangat religius, Dia mengajak banyak penduduk lokal Filipina dan penguasa mereka pada agama Katolik. Tetapi semangatnya menjadi kebinasaannya karena terlibat dalam pertikaian antarsuku di Filipina.

Atas peristiwa ini disebut wkyc.com, Lapu-Lapu dikagumi karena melawan intervensi asing. Dia kemudian dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Selama kampanye kepresidenan 2016,  Duterte bertanya mengapa patung Lapu-Lapu lebih kecil dari milik Magellan.

Sebelumnya, Magellan disebutkan sudah berperang untuk negaranya melawan dominasi Muslim di Samudera Hindia dan Maroko, setelah berpartisipasi dalam sejumlah pertempuran penting.

Celia Anna M. Feria, duta besar Filipina di Portugal mengatakan, setahun yang lalu pada konferensi Lisabon tentang Magellan dan Filipina, pihaknya dalam hal ini memisahkan sejarah itu dengan hari ini.

Namun itu, pada 2019 lalu, Presiden Duterte menyerukan kembali seruan yang pernah dilontarkan mendiang diktator Ferdinand Marcos untuk mengubah nama Filipina menjadi ‘Maharlika’. Dalam bahasa lokal, ‘Maharlika’ disebut berarti ‘bangsawan’.

Perubahan nama ini bertujuan untuk menghilangkan keterkaitan kolonialisme pada nama negara Filipina. Filipina berasal dari nama Raja Spanyol Philip II yang berkuasa antara tahun 1556 hingga 1598 silam.

“Dinamakan Filipina karena ditemukan oleh Magellan menggunakan uang dari Raja Philip (II). Itulah mengapa ketika penjelajah yang bodoh datang, dia menamakannya Filipina,” ucap Duterte dalam pernyataannya pada Februari 2019, dikutip pri.org, bloomberg dan SunStar Manila.

Diketahui, Magellan dengan nama Portugis Ferrao de Magelhaes itu mulai melakukan perjalanan ekspedisinya keliling dunia pada tahun 1519 dan mencapai Pilipina 16 Maret 1521.

Ditulis Pigafetta, saat rombongan kapal berbendera Spanyol itu mulai merapat ke Filipina. Sungguh penjelajahan yang penuh penderitaan demi menemukan surga rempah-rempah di belahan dunia yang paling jauh.

The Discovery and Conquest of the Philippines (1521-1581) karya Martin J. Noone (1986: 58) mengutip naskah Pigafetta, “Kami juga memakan kulit sapi yang digunakan untuk mengikat ujung-ujung kayu utama penyangga kapal yang telah mengeras karena terkena panas matahari dan angin. Kami merebusnya agar lunak.”

“Kami bahkan makan serbuk gergaji dari papan. Sementara tikus-tikus yang masing-masing berharga setengah keping emas, tidak banyak yang dapat kami tangkap,” imbuhnya.

Ambisi itu ternyata tidak mampu diwujudkan Magellan, karena tewas dengan panah beracun yang dikendalikan Kepala Suku Datuk Lapu Lapu beserta anak buahnya di Filipina.

Juan Sebastian Elcano menggantikan Magellan memimpin ekspedisi pelayaran. Elcano beserta awaknya yang tersisa 17 orang dari 240 orang meninggalkan Filipina pada tanggal 21 Juni 1521.

“Pada pelayaran tersebut Elcano dan awaknya diarahkan ke “Kepulauan Rempah-Rempah”. Mereka tiba di Tidore pada tanggal 6 November 1521. Dari situ mereka melakukan transaksi perdagangan rempah-rempah”, tulis  indonesia.go.id .

Penulis : Rizkiansah Yakub
Editor : Rizkiansah Yakub

Komentar