Oleh : Hudan Irsyadi
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Unkhair)
Semarak penyampaian program kerja dan visi misi Calon Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun, kemarin 04/02/2026, berjalan penuh khidmat dan kekeluargaan. Aula FIB yang ukurannya hampir sama persis dengan Gamalama Ballroom Bela Hotel pun tumpah ruah disesaki para tamu undangan. Baik itu tamu dari lingkup Unkhair maupun dari pihak eksternal pun turut hadir. Hampir seluruh dosen maupun mahasiswa ambil bagian pada momentum yang sudah menjadi ritus 4 tahunan. Bahkan dua mantan rektor dari FIB pun ikut nimbrung dan memberi masukan serta pertanyaan terhadap ketiga bakal calon dekan FIB.
Kata Gibra (nama pena Prof Gufran) bahwa ketiga calon dekan FIB ini semuanya bagus. Namun dari ketiga bakal calon ini untuk mencari satu tentu menjadi catatan tersendiri. Dalam pemaparan program kerja ketiga calon dekan tampil memesona. Jika diibaratkan dalam permainan sepakbola, Ibu Nurain Jalaludin seperti Mia Ham, pesepakbola AS yang fenomenal, begitu juga dengan Hi Ismail Maulud yang bisa disamakan dengan Genaro Gatuso, sang destroyer.
Untuk Bapak Jusan mungkin bisa dibilang seperti Luca Modric yang sentuhan ajaibnya masih nampak meski telah memasuki usia senja. Di sinilah letak keunikan dari para calon dekan FIB yang bertarung.
Cari satu dari tiga tidaklah mudah jika dilihat dari kelebihan para calon dekan itu.
Memilih pemimpin yang tepat dari beberapa calon adalah tantangan krusial dalam demokrasi, terutama saat ada tiga opsi kuat. Proses “cari satu dari tiga” menuntut pemahaman mendalam agar pilihan membawa kemajuan bersama. Dalam konteks masyarakat Ternate, terdapat dolabolo (pepatah) trekait cari satu dari tiga yaitu “Fotike rimoi toma dofu madaha, fotike dofu toma rimo madaha”.
Cari satu dari tiga, adalah pilihan terbaik yang melekat pada satu orang yang nantinya ditunjuk.
Sejatinya, pemimpin ideal harus berintegritas tinggi, menunjukkan kejujuran dan transparansi dalam setiap tindakan. Kompetensi dan pengalaman menjadi kunci, di mana para calon dekan harus mampu menyelesaikan masalah nyata dengan rekam jejak sukses. Selain itu, visi jangka panjang serta kemampuan menjembatani kepentingan umum dan membedakannya dari kepentingan pribadi.
Memilih satu calon dekan terbaik dari tiga kandidat adalah proses strategis di lingkungan perguruan tinggi. Setidaknya keputusan ini memengaruhi arah perkembangan fakultas selama empat tahun ke depan, yang menuntut analisis matang berdasarkan kriteria akademik dan manajerial.
Cari satu dari tiga adalah arah demokrasi Fakultas Ilmu Budaya Unkhair. ***









